Minggu, 02 Oktober 2016

Trik Cerdik Menangani Hipoksia Saat Pendakian

Sebagai seorang pendaki baik pemula maupun handal seringkali dihadapkan pada resiko terjadinya hipoksia saat pendakian. Hal ini terjadi akibat seseorang berada pada ketinggia tertentu dimana kadar oksigen di puncak gunung sangat minim. Hipoksia saat pendakian merupakan gangguan suplay oksigen akibat minimnya kadar oksigen yang terdapat pada suatu tempat terutama di tempat dengan ketinggian tertentu. Dimana pada saat ini seseorang harus mendapat penanganan segera dan orang disekitar harus tanggap dengan kejadian ini karena bisa mengancam jiwa seseorang. Karena pada kasus yang serius hipoksia saat pedakian bisa menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran, koma bahkan meninggal.
Hal-hal yang mempengaruhi kondisi daya tahan tubuh seseorang terhadap hipoksia saat pendakian sebagian dipengaruhi oleh kandungan hemoglobin dan sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen pada saat pernafasan untuk dialirkan keseluruh tubuh. Selain itu seseorang yang dalam kesehariannya sering di pegunungan atau bermukim disana biasanya akan lebih resisiten terserang hipoksia, hal ini akibat adaptasi tubuh terhadap lingkungan minim oksigen dengan mengimbanginya melalui produksi sel darah merah yang lebih banyak.
Hipoksia saat pendakian diklasifikasikan menjadi 2 macam:
  1. Hipoksia bersifat akut
Adalah hipoksia yang biasa terjadi saat keracunan gas karbon monoksida pada udara yang diselimuti suatu zat semisal saat hidung sekonyong menghirup udara yang mengandung belerang, dimana secara mendadak udara bersih yang dihirup seseorang menjadi gas yang mengandung racun lalu membuatnya tidak sadarkan diri alias pingsan.
  1. Hipoksia jenis fulminan
Hipoksia yang terjadi begitu singkat dimana saat proses pernafasan mendadak paru menyedot udara tanpa disertai oksigen kemudian kurun waktu 1 menit penderita terkapar pingsan.
Adapun symptom atau tanda gejala secara fisik dari hipoksia saat pendakian antara lain: tubuh lemas, jatung berdebar, sesak nafas, pusing, nafas cepat kedinginan dan dangkal, serta pandangan kabur. Hipoksia saat pendakian memicu peningkatan frekuensi pernapasan dengan memforsir kerja paru untuk bernafas dengan cepat guna mencukupi kebutuhan tubuh akan gas oksigen. Hipokasia saat pendakian organ jantung juga mesti bekerja ekstra untuk memompa gas oksigen yang terdapat dalam darah yang jumlahnya sangat limit tersebut untuk dipasok ke sel dan jaringan yang terdapat di seluruh tubuh.
Sedang dari segi perilaku, hipoksia saat pendakian juga bisa dikenali lewat konsentrasi dan cara berfikir yang susah untuk menentukan keputusan dengan tepat dan kacau. Kondisi hipoksia yang didominasi perasaan emosi akan sangat menentukan seseorang pendaki dalam penentuan suatu keputusan. Sehingga akibat oksigen yang kurang untuk menutrisi otak dan mengakibatkan otak tidak mampu menjalankan fungsinya dengan bagus akan menyebabkan fenomena tersesat saat pendakian.
Jika hipoksia saat pendakian benar terjadi maka anda bisa melakukan hal berikut:
  1. Mencari tabung oksigen
Untuk mengantisipasi dan sebagai pertolongan pertama saat terjadinya hipoksia saat pendakian, anda bisa memanfaatkan tabung oksigen dengan ukuran mini dan fleksibel ditenteng kemanapun dan bisa didapat dengan harga friendly di apotek terdekat.
  1. Mengkondisikan korban
Jika dengan tabung oksigen berukuran mini belum begitu memperlihatkan perubahan cobalah untuk membuat pakaian korban lebih longgar dengan membuka ikat pinggang, BH pada kaum hawa yang terlampau kencang, serta kerah pada pakaian untuk memeperlancar dan mempermudah proses pernafasan.
  1. Mobilisasi korban
Jika kondisi memungkinkan semisal pendaki sudah membaik segera mobilisasi korban menuju kedataran yang lebih rendah hal ini bertujuan untuk mencegah kondisi hipoksia saat pendakian yang lebih parah yang berpotensi memicu kerusakan pada organ tubuh akibat asupan oksigen menuju organ tubuh berkurang da memungkinkan korban memperoleh suplay oksigen yang lebih pada proses pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
  1. Memberinya asupan air
Air mineral bisa sedikit membantu pemulihan kondisi hipoksia saat pendakian. Karena dalam air juga terkandung oksigen yang mampu memberikan nutrisi oksigen dan memberi asupan tenaga pada penderita hipoksia.
Disepanjang pendakian biasanya dibangun pos-pos disetiap level ketinggian tertentu, manfaatkan fasilitas ini untuk beristirahat, makan dan minum secukupny atau sekedar duduk. Karena hal ini selain membuang sedikit lelah juga untuk memeberi kesempatan tubuh beradaptasi dengan lingkungan yang lebih tinggi yang pastinya dengan kondisi udara yang berbeda dan kadar oksigen yang lebih menipis, sehingga resiko hipoksia saat pendakian dapat sedikit terhindarkan.
Bagi anda para pendaki pemula maupun professional terutama yang memiliki riwayat anemia, anda harus senantiasa waspada dengan menjaga kondisi tubuh tetap vit dan membawa obat pribadi sebagai antisipasi saat sakit dan tabung oksigen mini untuk mengatasi hipoksia saat pendakian benar terjadi. Karena kondisi tubuh anemia memiliki kadar sel darah merah dan kadar hemoglobin yang lebih sedikit dari orang normal sehingga lebih sedikit hemoglobin yang bisa mengikat oksgen yang berpotensi hipoksia saat pendakian. Semangat Mendaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar