Hal-hal yang mempengaruhi kondisi daya tahan tubuh seseorang terhadap hipoksia saat pendakian sebagian dipengaruhi oleh kandungan hemoglobin dan sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen pada saat pernafasan untuk dialirkan keseluruh tubuh. Selain itu seseorang yang dalam kesehariannya sering di pegunungan atau bermukim disana biasanya akan lebih resisiten terserang hipoksia, hal ini akibat adaptasi tubuh terhadap lingkungan minim oksigen dengan mengimbanginya melalui produksi sel darah merah yang lebih banyak.
Hipoksia saat pendakian diklasifikasikan menjadi 2 macam:
- Hipoksia bersifat akut
- Hipoksia jenis fulminan
Adapun symptom atau tanda gejala secara fisik dari hipoksia saat pendakian antara lain: tubuh lemas, jatung berdebar, sesak nafas, pusing, nafas cepat kedinginan dan dangkal, serta pandangan kabur. Hipoksia saat pendakian memicu peningkatan frekuensi pernapasan dengan memforsir kerja paru untuk bernafas dengan cepat guna mencukupi kebutuhan tubuh akan gas oksigen. Hipokasia saat pendakian organ jantung juga mesti bekerja ekstra untuk memompa gas oksigen yang terdapat dalam darah yang jumlahnya sangat limit tersebut untuk dipasok ke sel dan jaringan yang terdapat di seluruh tubuh.
Sedang dari segi perilaku, hipoksia saat pendakian juga bisa dikenali lewat konsentrasi dan cara berfikir yang susah untuk menentukan keputusan dengan tepat dan kacau. Kondisi hipoksia yang didominasi perasaan emosi akan sangat menentukan seseorang pendaki dalam penentuan suatu keputusan. Sehingga akibat oksigen yang kurang untuk menutrisi otak dan mengakibatkan otak tidak mampu menjalankan fungsinya dengan bagus akan menyebabkan fenomena tersesat saat pendakian.
Jika hipoksia saat pendakian benar terjadi maka anda bisa melakukan hal berikut:
- Mencari tabung oksigen
- Mengkondisikan korban
- Mobilisasi korban
- Memberinya asupan air
Disepanjang pendakian biasanya dibangun pos-pos disetiap level ketinggian tertentu, manfaatkan fasilitas ini untuk beristirahat, makan dan minum secukupny atau sekedar duduk. Karena hal ini selain membuang sedikit lelah juga untuk memeberi kesempatan tubuh beradaptasi dengan lingkungan yang lebih tinggi yang pastinya dengan kondisi udara yang berbeda dan kadar oksigen yang lebih menipis, sehingga resiko hipoksia saat pendakian dapat sedikit terhindarkan.
Bagi anda para pendaki pemula maupun professional terutama yang memiliki riwayat anemia, anda harus senantiasa waspada dengan menjaga kondisi tubuh tetap vit dan membawa obat pribadi sebagai antisipasi saat sakit dan tabung oksigen mini untuk mengatasi hipoksia saat pendakian benar terjadi. Karena kondisi tubuh anemia memiliki kadar sel darah merah dan kadar hemoglobin yang lebih sedikit dari orang normal sehingga lebih sedikit hemoglobin yang bisa mengikat oksgen yang berpotensi hipoksia saat pendakian. Semangat Mendaki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar