“enak ya jadi kamu, naik gunung terus, punya banyak stok foto-foto bagus”
Sebagian besar orang mungkin hanya melihat dari sisi “enaknya naik gunung”. Padahal, ada hal-hal nggak enak yang kami alami selama pendakian. Apalagi bagi pendaki wanita, hal-hal nggak enak di bawah ini cuma kami yang bisa mengerti.
1. Susahnya menjaga diri di antara banyaknya lelaki di gunung
Meski sekarang sudah sangat banyak pendaki
wanita, namun jumlah pendaki pria di gunung jauh lebih banyak. Bagi kami
pendaki wanita, menjaga diri di antara pria-pria itu nggak mudah.
Ketika saya harus mendaki tanpa ada teman
pria, saya sering berbohong dihadapan para pendaki lainnya. Bila mereka
bertanya “sendirian aja mbak? atau cewek-cewek aja mbak?”, saya selalu
memberikan jawaban omong kosong. Kata saya “enggak kok mas, yang lain
udah jalan di depan atau enggak kok mas, kita udah janjian di pos IV”.
Saya yakin, pendaki-pendaki gunung pria
Indonesia orang yang baik. Tapi, saya nggak mau ambil resiko. Lebih baik
berbohong untuk mengantisipasi hal-hal yang nggak diinginkan.
Selain itu, salah satu cara menjaga diri
yang terbaik adalah dengan berpakaian yang sopan. Saya memang nggak
berhijab, tapi saya selalu mengenakan celana panjang. Sebaiknya, jangan
mengenakan celana gemes saat mendaki, takutnya celana gemes kekinian
kita mengundang mala petaka.
2. Buang air menjadi problematika utama
Kekhawatiran pada diri pendaki wanita bukan
hanya tentang keamanannya di antara pria, tapi juga permasalahan buang
air. Kalian kaum pria, mungkin nggak perlu merisaukan akan buang air
dimana. Kami pendaki wanita selalu kesusahan menemukan tempat yang
tepat.
Baru saja berjalan beberapa meter dan
bersiap untuk buang air, tahu-tahu dari atas kelihatan segerombolan
pendaki yang mau turun gunung. Harus benar-benar mencari tempat yang
nggak terlihat dan aman.
Bila terpaksa, matras atau jas hujan
menjadi senjata andalan. Tak lupa membawa tisu kering, tisu basah, dan
air. Jujur, kami tidak bisa meninggalkan benda-benda berharga itu saat
mendaki.
3. Kami nggak nyaman mendaki saat datang bulan, serius
Masalah buang air sudah cukup merepotkan,
tambah lagi saat pendaki wanita ini sedang datang bulan. Kalau boleh
jujur, saya lebih memilih nggak naik gunung saat datang bulan pada hari
pertama. Sumpah, nggak nyaman banget.
Kami pendaki wanita dituntut untuk terus
bergerak dan berjalan saat menstruasi. Belum lagi jika kami harus
memanjat. Sungguh, kedatangan bulan saat mendaki membuat kami tidak
leluasa bergerak. Kram perut saat menstruasi juga menjadi kendala.
Namun, sesakit apapun itu, kami selalu bisa mengatasinya.
Hal yang paling memberatkan ketika naik
gunung dalam keadaan menstruasi adalah saat kami harus sering mengganti
pembalut. Lagi-lagi kami mengalami masalah dalam mencari tempat yang
tenang dan sepi untuk mengganti pembalut. Bisa dibayangkan kan, saat
turun gunung, tidak hanya sampah makanan yang kami bawa turun, tapi
sampah pembalut.
4. Menjaga kebersihan wajah membutuhkan perjuangan, hargai!
Menjaga kebersihan wajah saat mendaki itu perlu. Bukan hanya ingin tampil cantik di gunung, tapi kami selalu ingin menjaga kulit kami agar tetap bersih terawat.Ketika sudah turun gunung, kalian para pendaki pria nggak pernah bermasalah dengan kulit kusam dan gosong terbakar matahari setelah pendakian. Tapi, bagi kami, itu masalah besar. Apalagi jika harus menghadapi komentar-komentar orang seperti “kok gosong sekarang, mukanya kusam”.
Mungkin, kami terlihat tegar membalas komentar itu dengan berkata “iya dong, gosong dicium matahari Gunung Rinjani nih”. Songong dikit lah, tapi dalam hati kami berkata “sial, aduh gimana nih, kok kusem gini, harus perawatan maksimal nih”.
Setelahnya, kami berjuang mati-matian melakukan perawatan. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Perawatan wajah alami dan perawatan berbahan kimia kami lakoni.
Jadi jangan heran, jika kalian pernah menemukan kami sedang membersihkan wajah, memakai krim malam, atau sunblock di dalam tenda. Kami hanya ingin menjaga kulit kami.
5. Alotnya perdebatan meminta izin untuk mendaki
Menurut saya, tantangan terberat dalam mendaki gunung itu bukan terjalnya medan, tapi saat mulai minta izin. Saat itulah saya harus mengumpulkan semua mental dan mempersiapkan segala bujuk rayu kepada orang tua.Karena tidak mudah bagi orang tua untuk merelakan anak perempuannya naik gunung. Yang mereka bayangkan, bukan pemandangan gunung yang indah dan serunya ngobrol bersama teman di tengah hutan. Dalam pemikiran mereka, naik gunung itu sangat membahayakan. Terkadang, ada juga orang tua yang berpikiran berlebihan.
Saya sering mengalami perdebatan yang alot untuk memperoleh izin mendaki. Segala macam alasan saya persiapkan untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran mereka. Bahkan, terkadang saya berlaku sangat manis dan menuruti semua perkataan orang tua tanpa mengeluh, tanpa membantah beberapa minggu sebelum mendaki. Tentu saja untuk melancarkan izin naik gunung. Hehehhehe.. Jangan ditiru, sebaiknya selalu menjadi anak manis yang tidak bermalas-malasan kalau diminta tolong.
6. Kegalauan saat harus memilih barang yang ingin dimasukan ke dalam tas
“Sepertinya enak nih bawa buku bacaan, bawa bantal juga, oiya syalnya jangan sampai ketinggalan buat foto-foto.”
Pendaki wanita itu ribet. Banyak barang yang
ingin dibawa, sedangkan ransel sudah penuh. Kalau mendaki sama cowok sih
enak, tinggal nitip. “Nitip bawain buku yak, keril udah penuh, nggak
muat”
Pasti para cowok dengan senang hati menerimanya. Jika perlu, membawakan ransel kami sampai puncak.
Tapi bagaimana jika mendaki sendiri atau mendaki
dengan anggota cewek semua? Beban ransel yang terlalu berat memang
menjadi kendala kami saat mendaki. Nggak ada yang bisa diajak share
nitip barang. Mau nggak mau kami membawa semua barang sendiri.
Saat seperti inilah, pendaki wanita yang terlihat mempunyai badan besar dan paling berpengalaman menjadi andalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar