Kita tahu, bahwa teramat sedikit orang yang bisa memahami dan mengerti
keadaan sekitar atau keadaan orang lain jika dia tidak terjun langsung
atau mengalami apa yang seseorang dalam kehidupannya. Menerapkan sesuatu
keadaan pada diri sendiri adalah hal yang jarang di lakukan, padahal
itu adalah hal yang mudah.
Pendaki gunung, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang –
orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan
sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan
gagah.
Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar
menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak
menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang
keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape –
cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…
Tetapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan
dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan
mantap mengalir dalam jiwa mereka.
Adrenaline yang normal seketika
menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti –
hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi
yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual.
Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya,
tetangganya, bahkan musuhnya sendiri.
Menghargai dan meyakini kebesaran
Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci
yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini.
Mendaki gunung bukan berarti menaklukkan alam, tapi lebih utama adalah
menaklukkan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah
kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.
Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih
lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negativ terhadap dampak dari
kegiatan ini.
Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang
tampaknya lebih dekat pada orang – orang yang terjun di alam bebas ini.
“Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau
membaca anak muda yang tewas di gunung.
Padahal soal hidup dan mati, di
gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak
di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…
Kalau selamanya kita harus
takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu
Benua Amerika.
Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling
damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat.
Saat
kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa
alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan.
Di sanalah pembuktian diri
dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri
dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Rasa takut, cemas, gusar,
gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya
sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang
anak manusia.
Gunung itu memang curam, tetapi ia lembut. Gunung itu memang
terjal, tetapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar