Rahasia di Balik Kegiatan Mendaki Gunung
RAHASIA DI BALIK MENDAKI GUNUNG
Saya tidak
mengikrarkan diri sebagai seorang pencinta alam, sebagaiman sebagian
besar teman-temank saya mendedikasikan dirinya, tapi saya lebih
cenderung mengakui kalau saya seorang pengagum alam. Alasannya adalah
dalam pemahaman saya seseorang yang mengikrarkan diri sebagai seorang
pencinta alam harus mempunyai kepedulian yang tinggi akan alam dan usaha
yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai
refleksi dari kata “pencinta”. Sementara saya, saya hanya suka berada di
alam terbuka dan menikmati keindahannya. Meskipun demikian, untuk
memfasilitasi kesukaank saya itu, sepanjang tahun 1999 sampai 2002, saya
dan beberapa teman dekat yang mempunyai kesukaan yang sama bergabung
dalam salah satu Organisasi Pencinta Alam yang ada di kotak saya, yaitu
DENNY’S CUSTODIAN BUNCH (DCB). Ini
mirip dengan partai yang ikut berkoalisi dengan partai penguasa untuk
mendapatkan jatah kursi …hehehehe…… Guyon...guyon, tak perlu ada yang
tersinggung… maaf.
Untuk
kegiatan saya saat itu, tidak sedikit orang yang mempunyai penilaian
negatif. Saya sama sekali tidak menyalahkan penilaian itu, dan juga
tidak benar-benar setuju. Semua orang berhak untuk mempunyai penilain
yang berbeda, dan itu semua tergantung pada sejauh mana pengetahuan
setiap individu atas apa yang dinilainya. Yang jelas, bagi saya, mendaki
gunung itu tidak hanya sekedar melakukan perhitungan penyediaan
logistik yang memadai untuk kurun waktu selama pendakian, berusaha
mempertahankan stamina, menepis semua keraguan akan kekuatan fisik untuk
mencapai puncak gunung dan menikmati udara yang sejuk dan semua
keindahan alam yang terpampang luas di hadapan saya, tapi lebih jauh
dari itu saya memaknai langkah-langkah menuju puncak gunung itu laksana
langkah-langkah dalam menapaki kehidupan kehidupan ini.
YA
jalan menuju puncak gunung itu pasti menanjak, kadang landai, kadang
terjal, pada umumnya berbatu, kadang terdapat simpangan, dan tak jarang
membingungkan sampai membuat tersesat, sering pula tertutup semak
belukar, akar, dan pohon tumbang, singkatnya PENUH DENGAN RINTANGAN.
Sementara dalam perjalanan kesana seorang pendaki akan membekali dirinya
dengan makanan dan minuman secukupnya, karena kalau membawa banyak juga
akan menyiksa, melengkapi dirinya dengan lampu senter sebagai penerang,
karena pada umumnya pendaki akan melakukan pendakian atau traking
dimalam hari – soalnya kalau siang hari bakal banyak mogoknya, ngeri
melihat jalan yang menanjak terus, dan pasti membutuhkan lebih banyak
cadangan air minum – sementara sedikit yang melengkapi diri dengan
kompas.
Begitu
pula jalan kehidupan menuju masa depan kita. Seperti gelapnya jalan
setapak yang membimbing kita ke puncak gunung, dan disertai bebagai
macam rintangan yang selalu berada disana untuk menguji seberapa tangguh
sang pendaki dalam berusaha mencapai tujuannya. Alur kehidupan juga
seperti itu. Hidup ini penuh dengan misteri. Jalan untuk menraih sebiah
keinginan tidaklah selalu mudah. Bila saat ini kita bisa menjalani
kehidupan ini dengan mulus, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi
berikutnya. Kita hanya keinginan, rencana, dan tujuan.
Saat
mendaki gunung kita harus berhemat, baik itu makanan ataupun minuman,
sehingga tidak kehabisan bekal, tetapi juga jangan terlalu sedikit
mengkonsumsinya karena bisa membuat kita kelaparan dan dehidrasi, dan
juga peralatan pendukung seperti lampu senter, jangan sampai padam
karena kehabisan setrum sebelum siang tiba. Sementara dalam hidup ini
kita juga tidak pernah dinasehatkan untuk menghambur-hamburkan makanan,
minuman dan barang-barang yang lain, atau sebaliknya menjadi orang yang
‘pelit bin kikir’, karena tidak baik juga. Sementara, lampu senter atau
alat penerang lainnya yang digunakan saat pendakian, dalam kehidupan dia
laksana ilmu pengetahuan kita tentang alam, dan informasi tentang medan
pendakian yang harus kita gunakan secara tepat. Kalau mendaki gunung
kita ingin berhasil sampai dipuncak dan kembali dengan selamat, kalau
dalam kehidupan kita ingin sukses meraih tujuan kita dan selamt hidup di
dunia dan di kehidupan kelak.
Lebih
jauh lagi, kalau dalam kehidupan, kita dinasehatkan untuk tidak selalu
melihat ke atas – ke gaya kehidupan yang di luar jangkauan kemampuan
kita, ke kehidupan orang lain yang serba berkecukupan atau bahkan
berlebihan, atau terlalu berharap lebih, karena itu akan mengurangi rasa
syukur atau menghilangkan kemampuan bersyukur atas apa yang telah kita
capai, kita raih, dan kita mampu lakukan, dalam mendaki gunung pun, kita
dinasehatkan untuk tidak sering-sering melihat ke atas, ke jalan
setapak yang menanjak terjal dihadapan kita, karena itu selain
memungkinkan kita lebih sering terantuk bebatuan atau terperosok ke
dalam lubang dan terjatuh, juga dari pada akan membuat kita lebih
bersemangat, sebaliknya hal itu lebih sering akan mematahkan semangat
kita. Sebaiknya, kita dinasehatkan untuk menyempatkan diri menengok ke
belakang, ke bawah melihat jalan yang telah kita lewati, dan tentu saja
keindahan alam yang terhampar disana. Tindakan ini akan memberikan
kesempatan ke kita untuk menikmati pemandangan alam yang tehampar di
bawah sana, dan lebih hebatnya lagi ini akan memberi kesempatan pada
kita untuk menghargai kemampuan kita melewati rintangan untuk mencapai
tempat sejauh ini, yang pada gilirannya ini secara luar biasa membangun
semangat kita untuk mencapai tempat yang lebih tinggi, karena kita sadar
bahwa kita punya kemampuan, dan mengetahui bahwa semakin tingggi tempat
kita berdiri, semakin indah pemandangan yang terlihat disana.
Dalam
kehidupan, kemampuan kita untuk melihat ke belakang akan memberi kita
kesempatan untuk belajar dari kehidupan sebelumnya untuk menjadi lebih
baik, dan keberanian untuk melihat ke kehidupan orang lain yang mungkin
lebih berkekurangan dari kita, akan membuat kita lebih banyak bersyukur
atas keadaan kita sekarang, yang luar biasanya adalah bahwa kemampuan
mensyukuri atas nikmat yang kita rasakan sekarang akan membuat kita
hidup lebih bahagia. Dan, dalam hal ini saya dan teman-teman semestinya
tidak pernah menyangsikannya, karena seperti yang ALLAH janjikan bahwa
semakin kita mampu bersyukur kita akan diberi nikmat yang lebih banyak,
dan sebaliknya jika kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang telah DIA
berikan maka hidup kita akan semakin sengsara.
Pelajaran
dan makna apa yang saya dapatkan di balik langkah-langkah menuju puncak
gunung, dan apa yang didapatkan dan dirasakan oleh pendaki lain bisa
berbeda-beda. Begitu pula penilaian orang tentang hal yang kami (pendaki
– ‘penikmat atau pengagum’ dan pencinta alam) lakukan tentu tidaklah sama, sesuai dengan kemampuan pemahaman dan pengetahuan masing-masing.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar