Minggu, 02 Oktober 2016

Rahasia di Balik Kegiatan Mendaki Gunung

Rahasia di Balik Kegiatan Mendaki Gunung

 RAHASIA DI BALIK MENDAKI GUNUNG

Mendaki gunung adalah salah satu aktifitas kesenangank saya. Berkat hobiku ini saya mengalami dua kali berdiri di puncak gunung tertinggi di pulau jawa, yaitu Gunung Semeru, satu kali menyisir Gunung Arjuno, dan  tiga puluh tujuh kali mengagumi keindahan pemandangan dari puncak Gunung Lamongan.
Saya tidak mengikrarkan diri sebagai seorang pencinta alam, sebagaiman sebagian besar teman-temank saya mendedikasikan dirinya, tapi saya lebih cenderung mengakui kalau saya seorang pengagum alam. Alasannya adalah dalam pemahaman saya seseorang yang mengikrarkan diri sebagai seorang pencinta alam harus mempunyai kepedulian yang tinggi akan alam dan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai refleksi dari kata “pencinta”. Sementara saya, saya hanya suka berada di alam terbuka dan menikmati keindahannya. Meskipun demikian, untuk memfasilitasi kesukaank saya itu, sepanjang tahun 1999 sampai 2002, saya dan beberapa teman dekat yang mempunyai kesukaan yang sama bergabung dalam salah satu Organisasi Pencinta Alam yang ada di kotak saya, yaitu DENNY’S CUSTODIAN BUNCH (DCB). Ini mirip dengan partai yang ikut berkoalisi dengan partai penguasa untuk mendapatkan jatah kursi …hehehehe…… Guyon...guyon, tak perlu ada yang tersinggung… maaf.
Untuk kegiatan saya saat itu, tidak sedikit orang yang mempunyai penilaian negatif. Saya sama sekali tidak menyalahkan penilaian itu, dan juga tidak benar-benar setuju. Semua orang berhak untuk mempunyai penilain yang berbeda, dan itu semua tergantung pada sejauh mana pengetahuan setiap individu atas apa yang dinilainya. Yang jelas, bagi saya, mendaki gunung itu tidak hanya sekedar melakukan perhitungan penyediaan logistik yang memadai untuk kurun waktu selama pendakian, berusaha mempertahankan stamina, menepis semua keraguan akan kekuatan fisik untuk mencapai puncak gunung dan menikmati udara yang sejuk dan semua keindahan alam yang terpampang luas di hadapan saya, tapi lebih jauh dari itu saya memaknai langkah-langkah menuju puncak gunung itu laksana langkah-langkah dalam menapaki kehidupan kehidupan ini.
YA jalan menuju puncak gunung itu pasti menanjak, kadang landai, kadang terjal, pada umumnya berbatu, kadang terdapat simpangan, dan tak jarang membingungkan sampai membuat tersesat, sering pula tertutup semak belukar, akar, dan pohon tumbang, singkatnya PENUH DENGAN RINTANGAN. Sementara dalam perjalanan kesana seorang pendaki akan membekali dirinya dengan makanan dan minuman secukupnya, karena kalau membawa banyak juga akan menyiksa, melengkapi dirinya dengan lampu senter sebagai penerang, karena pada umumnya pendaki akan melakukan pendakian atau traking dimalam hari – soalnya kalau siang hari bakal banyak mogoknya, ngeri melihat jalan yang menanjak terus, dan pasti membutuhkan lebih banyak cadangan air minum – sementara sedikit yang melengkapi diri dengan kompas.
Begitu pula jalan kehidupan menuju masa depan kita. Seperti gelapnya jalan setapak yang membimbing kita ke puncak gunung, dan disertai bebagai macam rintangan yang selalu berada disana untuk menguji seberapa tangguh sang pendaki dalam berusaha mencapai tujuannya. Alur kehidupan juga seperti itu. Hidup ini penuh dengan misteri. Jalan untuk menraih sebiah keinginan tidaklah selalu mudah. Bila saat ini kita bisa menjalani kehidupan ini dengan mulus, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya. Kita hanya keinginan, rencana, dan tujuan.
Saat mendaki gunung kita harus berhemat, baik itu makanan ataupun minuman, sehingga tidak kehabisan bekal, tetapi juga jangan terlalu sedikit mengkonsumsinya karena bisa membuat kita kelaparan dan dehidrasi, dan juga peralatan pendukung seperti lampu senter, jangan sampai padam karena kehabisan setrum sebelum siang tiba. Sementara dalam hidup ini kita juga tidak pernah dinasehatkan untuk menghambur-hamburkan makanan, minuman dan barang-barang yang lain, atau sebaliknya menjadi orang yang ‘pelit bin kikir’, karena tidak baik juga. Sementara, lampu senter atau alat penerang lainnya yang digunakan saat pendakian, dalam kehidupan dia laksana ilmu pengetahuan kita tentang alam, dan informasi tentang medan pendakian yang harus kita gunakan secara tepat. Kalau mendaki gunung kita ingin berhasil sampai dipuncak dan kembali dengan selamat, kalau dalam kehidupan kita ingin sukses meraih tujuan kita dan selamt hidup di dunia dan di kehidupan kelak.
Lebih jauh lagi, kalau dalam kehidupan, kita dinasehatkan untuk tidak selalu melihat ke atas – ke gaya kehidupan yang di luar jangkauan kemampuan kita, ke kehidupan orang lain yang serba berkecukupan atau bahkan berlebihan, atau terlalu berharap lebih, karena itu akan mengurangi rasa syukur atau menghilangkan kemampuan bersyukur atas apa yang telah kita capai, kita raih, dan kita mampu lakukan, dalam mendaki gunung pun, kita dinasehatkan untuk tidak sering-sering melihat ke atas, ke jalan setapak yang menanjak terjal dihadapan kita, karena itu selain memungkinkan kita lebih sering terantuk bebatuan atau terperosok ke dalam lubang dan terjatuh, juga dari pada akan membuat kita lebih bersemangat, sebaliknya hal itu lebih sering akan mematahkan semangat kita. Sebaiknya, kita dinasehatkan untuk menyempatkan diri menengok ke belakang, ke bawah melihat jalan yang telah kita lewati, dan tentu saja keindahan alam yang terhampar disana. Tindakan ini akan memberikan kesempatan ke kita untuk menikmati pemandangan alam yang tehampar di bawah sana, dan lebih hebatnya lagi ini akan memberi kesempatan pada kita untuk menghargai kemampuan kita melewati rintangan untuk mencapai tempat sejauh ini, yang pada gilirannya ini secara luar biasa membangun semangat kita untuk mencapai tempat yang lebih tinggi, karena kita sadar bahwa kita punya kemampuan, dan mengetahui bahwa semakin tingggi tempat kita berdiri, semakin indah pemandangan yang terlihat disana.
Dalam kehidupan, kemampuan kita untuk melihat ke belakang akan memberi kita kesempatan untuk belajar dari kehidupan sebelumnya untuk menjadi lebih baik, dan keberanian untuk melihat ke kehidupan orang lain yang mungkin lebih berkekurangan dari kita, akan membuat kita lebih banyak bersyukur atas keadaan kita sekarang, yang luar biasanya adalah bahwa kemampuan mensyukuri atas nikmat yang kita rasakan sekarang akan membuat kita hidup lebih bahagia. Dan, dalam hal ini saya dan teman-teman semestinya tidak pernah menyangsikannya, karena seperti yang ALLAH janjikan bahwa semakin kita mampu bersyukur kita akan diberi nikmat yang lebih banyak, dan sebaliknya jika kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang telah DIA berikan maka hidup kita akan semakin sengsara.
Pelajaran dan makna apa yang saya dapatkan di balik langkah-langkah menuju puncak gunung, dan apa yang didapatkan dan dirasakan oleh pendaki lain bisa berbeda-beda. Begitu pula penilaian orang tentang hal yang kami (pendaki – ‘penikmat  atau pengagum’ dan pencinta alam) lakukan tentu tidaklah sama, sesuai dengan kemampuan pemahaman dan pengetahuan masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar