Rabu, 28 September 2016

meme lucu pendaki

Apalah daku hanya pos bayangan. Anak gunung pasti paham nih



7. Ekspektasi vs Realita



8. Hmmm... Gunung apa yaaa...



9. Merbabu = Menanti Restu Bapak Ibumu



10. Jangan sekali-sekali ngelarang pacarmu naik gunung ya

5 meme lucu pendaki

1. Ciee... yang pernah satu tenda



2. Kapan putus? Diajak jalan sama anak gunung tuh...



3. Ciri-ciri orang ketagihan naik gunung nih



4. Janjinya mau naik bareng, eh malah ditinggal muncak duluan. Nasib..



5. Kamu tipe yang mana?

TIPS MEMILIH OMPOR GUNUNG

Tips Memilih Kompor - Saat mendaki gunung (terutama pendakian yang butuh waktu berhari-hari), kompor lapangan merupakan salah satu peralatan wajib yang harus dibawa, karena perannya yang sangat vital terkait dengan pemenuhan kebutuhan asupan makanan untuk tubuh. Tanpa kompor, proses memasak makanan akan sangat sulit untuk dilakukan, terutama saat cuaca buruk datang menghadang.

Ada beragam jenis kompor lapangan yang banyak tersedia di toko-toko perlengkapan outdoor. Kompor berbahan bakar gas tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari yang berbentuk simple dengan ukuran yang sangat kecil sehingga mudah untuk dibawa, sampai ada kompor gas portable yang berat namun sangat berguna jika butuh memasak untuk banyak orang. Ada juga kompor berbahan bakar cair (alkohol, spertus, dkk), dengan desain ringkas dan ringan yang sering dipilih para pendaki penyuka gaya ultralight hiking.

Dengan banyaknya pilihan, kadangkala banyak orang yang bingung menentukan jenis kompor seperti apa yang harus dipilih untuk dibawa dalam pendakian, beberapa tips di bawah ini mungkin dapat membantu kamu dalam menentukan pilihan.


Kondisi Pendakian sebagai Acuan untuk Memilih Kompor

1. Jenis Medan dan Pemilihan Waktu Pendakian

Jika menghadapi jenis medan pendakian yang terbuka, kamu harus memilih tipe kompor yang memiliki pelindung dari hembusan angin. Angin gunung biasanya berhembus sangat kencang, apalagi jika di medan pendakian terbuka yang tidak memiliki kerapatan vegetasi pepohonan. Untuk medan pendakian khusus seperti daerah bersalju atau medan dengan tinggi diatas 4.000 mdpl, kompor berbahan bakar gas akan sulit untuk digunakan dalam tekanan udara dan suhu yang sangat rendah, sehingga kamu harus mencari solusi untuk memilih kompor yang tepat.

2. Jumlah Anggota Kelompok

Banyak orang yang ikut dalam kelompok pendakianmu juga patut dijadikan acuan untuk pemilihan kompor lapangan. Hal ini berkaitan dengan jumlah makanan yang harus dimasak, serta efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk memasak. Untuk jumlah anggota kelompok yang besar, hindari pemakaian kompor yang tidak didesain untuk memasak dalam jumlah banyak. Lebih baik pilih kompor gas karena punya keunggulan efisiensi waktu yang cepat serta api yang dihasilkan juga cukup stabil.

3. Lama Waktu Pendakian

Pendakian dalam jangka waktu yang cukup panjang menuntut kita untuk melakukan efisiensi dalam berbagai hal, termasuk soal pemilihan kompor. Pemilihan tipe bahan bakar yang digunakan juga sangat penting, mengingat beban dan efisiensi penggunaan harus kita atur dengan cermat. Hindari pemilihan kompor yang boros bahan bakar, agar kita dapat berhemat dan bisa bertahan hidup sepanjang waktu pendakian yang dilakukan.

Pilihlah kompor dengan desain cukup ringkas dan ringan, agar kamu bisa menghemat ruang dan berat kompor yang dibawa tidak menambah beban pendakian yang harus ditanggung. Ingat, dalam pendakian yang butuh waktu lama, setiap harinya kondisi fisikmu akan semakin melemah, jangan heran jika di hari pertama carrier bakal terasa ringan dan nyaman untuk digendong, namun saat menjelang akhir perjalanan, tiba-tiba carrier tersebut menjadi lebih berat dan menyulitkan, padahal beban yang dibawa tidak banyak berubah.

Rekomendasi Kompor untuk Pendakian

1. Kompor Gas Portable

photo from isirumah.co.id
Keunggulan : Kompor portable seperti gambar diatas sangat mudah sekali untuk digunakan, keamanan cukup terjamin karena posisi gas terpisah dari api yang keluar serta punya cover pelindung. Seperti umumnya kompor berbahan bakar gas, kompor ini sangat bisa diandalkan untuk kebutuhan memasak dalam waktu cepat. Besar kecil api yang dibutuhkan juga dapat diatur dengan sangat mudah. Kompor jenis ini sangat cocok untuk diandalkan dalam pendakian kelompok dengan banyak jumlah personil.

Kekurangan : Desain yang tak ringkas (utuh tidak bisa dilipat atau dibongkar) membuat kompor ini akan menghabiskan banyak ruang dalam carrier. Selain itu, kompor seperti ini juga cukup berat untuk dibawa, sehingga akan menambah beban pendakian yang harus kamu pikul. Menurut kabar yang beredar, kompor berbahan bakar gas juga tak dapat digunakan di tempat dengan elevasi diatas 4.000 mdpl dan tempat dengan suhu udara sangat rendah (belum pasti kebenarannya). Jika angin bertiup kencang, nyala api akan terganggu, sehingga butuh perlindungan tambahan dari hembusan angin.

2. Kompor Gas Mini

photo from tokopedia.com
Keunggulan : Desain sangat simple dengan ukuran kecil dari kompor satu ini akan memudahkan kamu untuk membawanya. Dengan ukuran yang kecil, kompor ini akan sangat menghemat ruang. Untuk beberapa tipe desain, kompor seperti ini juga dapat dibongkar pasang, sehingga bisa disimpan di tempat terpisah.

Kekurangan : Posisi gas yang sangat berdekatan dengan output api rentan dengan bahaya kecelakaan. Dari pengalaman yang pernah saya alami, kompor jenis ini juga kadang sulit dipasang, terutama jika di beberapa bagian yang bisa dilipat telah muncul banyak karat. Input gasnya juga kadang tidak cocok atau sulit dipasangkan dengan beberapa jenis tabung gas yang biasa dijual dipasaran. Kompor ini juga tidak tahan dengan hembusan angin.

photo from teknindogas.wordpress.com
Keunggulan : Kompor jenis ini hampir sama dengan jenis yang sudah dibahas di atas, sehingga keunggulannya hampir sama. Satu keunggulan yang berbeda hanya karena kompor jenis ini menggunakan selang sebagai penyalur gas, sehingga tabung gas bisa diposisikan agak jauh dari output api untuk meminimalisir bahaya kecelakaan.

Kelemahan : Cukup mudah rusak, terutama bagian selang yang sering tersumbat. Kompor ini juga tidak tahan dengan hembusan angin kencang.

3. Kompor Gas Mini anti Badai

photo from bukalapak.com
Keunggulan : Kompor gas jenis ini sebenarnya hampir sama dengan kompor gas mini yang telah dibahas di atas. Desainnya yang simple dan ringan, akan sangat memudahkan untuk dibawa. Satu keunggulan lain yang dimiliki kompor ini adalah tersedianya cover pelindung output api dari angin kencang yang kerap terjadi di pegunungan, sehingga aktivitas memasak kamu akan tetap berjalan lancar meski cuaca tak mendukung.

Kekurangan : posisi gas yang dekat dengan nyala api cukup berbahaya dan rawan kecelakaan. Jika tak dirawat dengan baik, kompor jenis ini juga cukup mudah rusak.

4. Kompor Trangia

photo from bushmanswildhiking.blogspot.co.id
Keunggulan : Trangia merupakan jenis kompor yang sangat disukai oleh para pendaki, terutama para pendaki yang suka dengan teknik ultralight hiking. Desainnya yang sangat ringkas, serta telah dilengkapi dengan cooking set, membuat kompor ini akan menghemat banyak ruang dalam carrier. Beratnya yang sangat ringan turut menambah nilai spesial kompor buatan Swedia ini. Jumlah bahan bakar juga mudah diatur, desain kompornya juga sangat aman dari hembusan angin, sehingga bisa digunakan dalam segala kondisi. Tersedia juga botol khusus untuk bahan bakar cair agar lebih aman dan nyaman saat digunakan.

Kekurangan : Tidak didesain untuk memenuhi kebutuhan memasak bagi banyak orang. Api yang dihasilkan bahan bakar cair tidak secepat dan sestabil api dari gas, sehingga tak bisa diandalkan untuk kebutuhan memasak dalam waktu cepat. Cukup sulit mengontrol besar kecil api yang dibutuhkan.

***

Setiap jenis kompor lapangan memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing, jadi kamu harus pintar-pintar memilih dengan memperhatikan berbagai aspek terutama soal kebutuhan dan kenyamanan penggunaan. Jika kamu punya tips lain yang bisa menambahkan dan melengkapi tulisan ini, jangan ragu untuk menuliskannya di kolom komentar, semoga bermanfaat, salam lestari!

PENDAKI YANG HILANG DI SEMERU

Pencarian lanjutan terhadap pendaki asal Swiss Lionel Du Creaux yang hilang di Gunung Semeru, Jawa Timur telah dihentikan. Tim SAR gabungan tak berhasil menemukan sang pendaki dan diperkirakan sulit baginya untuk bertahan.

"Pencarian lanjutan dihentikan sejak Minggu, 26 Juni kemarin dengan hasilnya nihil," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Hendro Wahyono saat dikonfirmasi di Malang, Jawa Timur, Selasa (28/6/2016).

Pencarian lanjutan ini sendiri didanai oleh keluarga Lionel Du Creaux dan tetap di bawah koordinasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Pencarian lanjutan berlangsung selama 7 hari yang dimulai pada Minggu 19 Juni 2016. Sebelum pencarian lanjutan, terlebih dahulu telah dilakukan Open SAR pada 8-18 Juni dan tanpa hasil.

"Secara keseluruhan, pencarian hampir selama 20 hari dan nihil. Bagi orang biasa, dengan waktu yang panjang itu kecil kemungkinan mampu bertahan," ujar Hendro.

Sementara Kepala BB TNBTS John Kennedie belum bisa dikonfirmasi terkait operaasi SAR lanjutan ini.

Lionel Du Creaux, pendaki asal Swiss bersama rekannya Alice Guignard yang berpaspor Prancis mendaki ke Gunung Semeru pada 3 Juni 2016. Belakangan diketahui jika keduanya masuk secara ilegal lantaran tak registrasi di Pos Perizinan Ranupani dan langsung masuk mendaki ke Semeru.

Dalam perjalanan menuju puncak, Alice yang tak kuat memilih turun sedangkan Lionel tetap melanjutkan perjalanan. Alice yang tersesat kemudian ditemukan oleh pendaki lainnya untuk melaporkan kejadian itu pada 6 Juni 2016. Sejak itu pula, Lionel tak diketahui lagi keberadaannya.

BB TNBTS pada akhirnya melakukan Open SAR sejak 8 Juni dengan menurunkan sekitar 75 orang dari berbagai unsur tim SAR. Proses pencarian tak hanya melalui jalur darat tapi juga pengamatan visul dari udara menggunakan drone.

Namun sampai Open SAR resmi dihentikan, sang pendaki tetap tak ditemukan. Kemudian dilanjutkan dengan pencarian lanjutan di Gunung Semeru yang didanai keluarga penyintas dan tetap tak membuahkan hasil.

GUNUNG KERINCI

Pendakian Gunung Kerinci 3.805 M, Berteman Maut Menuju Puncak Api Tertinggi
9/25/2015 08:01:00 PM Yunaidi Joepoet 54 Comments

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun demikian dengan tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian yang saya panggul layaknya memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "Duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati. Sekarang saya berteman dengan maut, seorang diri di tengah rimba yang semakin suram.

Gunung Kerinci, Danau Kerinci, Danau Gunung Tujuh, Danau Kaca, Danau Kaco, Kersik Tua, Kayu Aro, Desa Pelompek, Tea Plantation, Kebun Teh Kayu Aro, Sungai Penuh, Puncak Indrapura, Orang Pendek, Mount Kerinci, Bukit Barisan; Mount; Hill; Gunung Kerinci; Gunung Tujuh; Mount Kerinci; highest volcano in indonesia; foto gunung; mountain photo; above the clound; kersik tuo; jambi; sumatra; kerinci seblat; taman nasional; layer; morning; sunrise; indonesia; landscape indonesia; travel photo; mounteiner; adventure; aerial photography; city; gunung kerinci; pendakian gunung; gunung tujuh; pegunungan bukit barisan; Indonesia Mountain; Ring of Fire; Cincin Api; Mount; Gunung Indonesia; Mountain in Indonesia; Active Volcano; Eruption; Climber
Pemandangan dari atas puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter dengan latar Danau Gunung Tujuh dan barisan Pegunungan Bukit Barisan. © Yunaidi Joepoet

Ini hari terakhir saya diumur 21, saat saya merasa maut hanya berjarak beberapa depa dari tempat saya berjalan merangkak, hari yang paling menakutkan selama saya terlahir di dunia. Akankah nafas saya berakhir beberapa jam saja sebelum pertambahan umur? Di tempat ini, jalan menuju puncak Gunung Kerinci, titik gunung api tertinggi di Indonesia, saya sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi dan kepercayaan terhadap diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa melakukannya.

Saya bukan pendaki profesional, bukan pula anggota dari kelompok pecinta alam, juga tak lahir dari keluarga berlimpah materi. Saya hanya pemuda dari desa kecil di pedalaman Sumatra Barat yang berteman dengan alam, sungai, sawah, dan kerbau sedari bocah. Menginjak kaki di perguruan tinggi, saya semakin senang membaca kisah-kisah petualangan. Meskipun fisik saya tak begitu bagus untuk menjadi petualang seperti Edmund Hillary ataupun Colombus, namun tak ada salahnya membaca kisah-kisah mereka. Untuk sebuah perjalananpun kerja serabutan dan menulis serta memotret saya jalankan untuk mendanai pundi-pundi untuk perjalanan berikutnya.




Wawan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet


Saya menyenangi kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Norman Edwin dan juga Soe Hok Gie. Meskipun keduanya bernasib sama, menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung, setidaknya dari kisah mereka saya percaya orang-orang baik dan jatuh cinta akan gunung berpulang di tempat yang dicintainya pula. Gunung adalah salah satu tempat paling baik di muka bumi, beberapa kelompok masyarakat dan kepercayaan di berbagai penjuru dunia mengkultuskan gunung sebagai tempat suci. Lihatlah Gunung Kailash setinggi 6.638, tempat suci empat agama. Pemeluk Buddha Tibet menyebutnya Kang Ripnpoche, Permata yang Mulia. Tapi di gunung ini, tempat petir dan maut berjarak hanya beberapa depa, saya tak berharap nasib saya sama seperti Soe Hok Gie ataupun Norman Edwin.


***

Hamparan kebun teh menjadi sajian utama saat saya keluar dari penginapan pagi itu. Tadi malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru, saya bersama seorang kawan yang sudah mendaki Pegunungan Himalaya, Micah Hanson tiba di Kersik Tuo. Desa kecil ini ibarat nirwana, yang kurang hanya aliran sungai. Namun tanpa sungaipun saya tetap merasa kedamaian yang nyata, apa yang surga janjikan kepada umat manusia.


Hamparan kebun teh tua yan juga hampara kebun teh terluas di dengan dengan latar Desa Kersik Tuo di kanan dan Gunung Kerinci di kejauhan. © Yunaidi Joepoet


Begini, penginapan saya terletak di tepi jalan lintas Padang-Sungai Penuh. Beberapa pendaki dari dalam ataupun luar negeri biasanya menginap disini sebelum memulai pendakian, namanya Homestay Paiman. Namun tak jauh dari Homestay Paiman, seorang pemuda Kersik Tuo membuka rumahnya secara sukarela untuk diinapi oleh para pendaki. Untuk mendaki Gunung Kerinci, beberapa pendaki lebih memilih untuk masuk dari Padang dibanding Jambi, alasannya karena jalur yang lebih pendek, pemandangan nan menawan, dan juga langsung tiba di desa terakhir sebelum pintu pendakian ke Gunung Kerinci. Di seberang penginapan saya, hamparan kebun teh yang sungguh sangat luas terhampar bak permadani. Saya berjalan ke bukit kecil yang tak jauh dari penginapan, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan kebun teh dengan latar Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter menyangga langit.

Kabut pagi menyeruak saat sinar matahari menghangatkan Kersik Tuo yang terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Desa ini berhawa sejuk, atau lebih tepatnya dingin bagi saya yang terbiasa hidup di suhu 33' celcius setiap harinya. Aktivitas warga desa belum berjalan seutuhnya meskipun jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul tujuh. Mayoritas warga desa ini hidup sebagai petani dan juga pekerja di perkebunan teh yang dimiliki oleh PTP Nusantara VI. Lahan kebun teh di Kersik Tuo yang jadi bagian dari Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas 2.500 hektare dan menghasilkan daun teh berkualitas juara sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia. Teh terbaik yang dihasilkan dikirim ke Belanda untuk diseduh sebagai minuman sang Ratu Belanda. Perkebunan teh tua ini merupakan perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan.

Memenuhi impian dan janji saya untuk mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, saya menginjakkan kaki kembali di Kersik Tuo ini. Beberapa waktu lalu, bersama dua orang kawan, saya mendaki Danau Gunung Tujuh yang dikelilingi oleh tujuh puncak gunung. Kami terengah-engah menembus kegelapan malam saat berjalan dari pintu pendakian menuju tempat berkemah di tepi danau. Butuh waktu lima jam bagi kami malam itu untuk tiba di tepi Danau Gunung Tujuh.

Meskipun tak berpengalaman dalam mendaki gunung di atas ketinggian 3.500 meter, namun melihat Kerinci saat perjumpaan kami pertama kali telah menautkan batin saya dengan gunung ini. Kepundannya yang rusak akibat letusan membangkitkan mimpi-mimpi saya sebagai anak muda untuk berlutut di puncaknya. Tapi apa mungkin dengan fisik yang tak perkasa saya bisa mendakinya? Setidaknya, motivasi ini semakin kuat saat saya berjanji untuk bisa melakukannya. Saya orang yang tak suka perayaan, tapi menginjak umur yang ke-22, saya bulatkan tekad untuk mendekatkan diri dengan alam, ibu dari segala kehidupan. Juga Azim, teman pendakian saya ke Gunung Tujuh. Kami sama-sama berjanji untuk mendakinya untuk merayakan apa yang kami yakini sebagai titik terbaik untuk merencakan kehidupan masa depan. Saya memasuki umur baru, Azim dan dua temannya merayakan kelulusan, Micah menggapai puncak api tertinggi di Indonesia sesuai dengan apa yang direncanakannya saat kami bertemu pertama kali di Pekanbaru.

***

"Gimana, kito menginap dulu di pintu rimba?" tanya Azim ke Wawan.
"Bolehlah. Sudah terlalu malam kalau dipaksakan naik ke Shelter II jam segini," Wawan mengiyakan ide Azim untuk mendirikan tenda di Pintu Rimba.

Simpang Tugu Macan dengan latar perkebunan teh dan Gunung Kerinci saat pagi hari. Dari tugu ini, perjalanan harus dilanjutkan menuju Pos Pendakian. Gunung Kerinci merupakan habitat harimau sumatra yang populasinya semakin terancam. © Yunaidi Joepoet


Kami membuka tenda di kiri jalur. Tempat ini lumayan untuk menampung dua tenda. Malam pertama pendakian, kami berjalan tak terlalu jauh, hanya melewati perkebunan penduduk hingga ke pintu rimba. Malam itu, dendeng yang kami beli di warung dicampur mie rebus menjadi penyumpal perut yang mulai keroncongan. Selanjutnya kopi dan teh hangat menemani obrolan kami malam itu, bercerita tentang apa saja yang membuat suasana hangat hingga perbincangan pun ditutup saat rasa kantuk telah tiba.

Malam pertama pendakian ke Gunung Kerinci berjalan lancar. Pukul lima subuh, senandung burung membangunkan kami. Udara sejuk menyambut wajah saya saat membuka tenda, penuh dengan oksigen nan segar saat menghirup udara pagi di bawah pohon nan rimbun. Meskipun tenda sebelah terdengar kisruh, "Oi, siapa yang kentut nih. Busuk!." Saya bersoloroh, "Panggilan alam datang lebih awal ya kalau di gunung, hahaha."

Hari ini target kami adalah tiba di Shelter 3, tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum menuju puncak Gunung Kerinci. Bagi para pendaki, selain Shelter 2 untuk mendirikan tenda, Shelter 3 menjadi salah satu tempat yang sering dijadikan titik berkemah sebelum mendaki menuju puncak Gunung Kerinci. Tepat pukul delapan pagi, kami berdoa dan meminta izin kepada Penguasa alam semesta agar dilindungi dalam pendakian ini.

Kami sekarang meninggalkan ketinggian 1.692 meter, Pos Pintu Rimba. Dari Pintu Rimba, jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman. Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos I. Beberapa kali kami berselisih dengan para pemburu burung yang menggunakan senapan. "Sudah tau dilarang menembak, masih saja menembak," ujar Azim sewot saat kami berselisih dengan pemburu yang berusaha menyembunyikan senapan anginnya.

Perburuan burung dan perambahan hutan memang menjadi masalah di kawasan yang masuk ke area Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman nasional seluas 1.386.000 hektar ini adalah rumah bagi 4.000 spesies tumbuhan, termasuk bunga Rafflesia arnoldi dan Titan arum. Disini hidup pula harimau sumatra yang populasinya kian terancam, Badak Sumatra, Gajah, Macan Dahan, Tapir Melayu, Siamang, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung berbulu indah dan bersuara merdu. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Pos Batu Lumut (kiri). Gunung Kerinci yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat adalah rumah baru sekitar 371 spesies burung. © Yunaidi Joepoet
Cantigi diketinggian 3.600 meter (kiri). Jalur pendakian dari Shelter 3 menuju puncak Indrapura, Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet

Saya merasa beruntung sedang berusaha mewujudkan impian dan angan saya menjelajah tempat ini. Perjalanan kami terhenti di Pos II Batu Lumut, kami beristirahat sejenak. Saya memanfaatkan waktu untuk mengisi botol air minum sembari melipir ke tubir tebing yang berbatasan langsung dengan jurang yang dalam. Suara siamang saling bersahutan saat saya melipir ke tubir jurang. Pos ini menjadi tempat perlintasan Harimau Sumatra yang semaki sulit saja ditemui karena habitat hidupnya yag semakin berkurang.

Dari Pos II menuju Pos III, jalanan mulai menanjak. Perjalanan menuju Pos III ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Wawan dan Micah berjalan kencang. Wawan tak membawa barang banyak, hanya tas berukuran 40 liter. Micah Hanson, pria bergelar PhD dari Nortwestern University di Amerika Serikat ini tentu dengan mudah melahap setiap tanjakan mengingat tubuhnya yang hampir setinggi dua meter. Saya terengah-engah memanggul barang bawaan dalam pendakian kali ini. Sementara Azim yang berbadan gempal tertinggal di belakang. Kami berjarak satu sama lain. "Jalur pendakian Gunung Kerinci cuma satu jalur. Tinggal ikuti saja jalur jalan setapak," tutur Azim yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Kerinci.

Kami kembali bertemu di Pos III, di tempat ini sebuah pondok sederhana biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat. Selang beberapa menit kami melanjutkan perjalanan ke Shelter I dengan ketinggian 2.512 meter. Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk kami lewati. Pegal di pundak pun lutut semakin terasa. Dari Pos III menuju Shelter 1, perjalanan kami tempuh sekitar satu jam. Setibanya di Shelter 1, gerimis mulai datang.

Memandangi juram nan dalam saat pendakian di Gunung Kerinci. © Yunaidi Joepoet
Dari Shelter 1, kami berusaha memacu langkah dengan cepat. Dalam perjalanan, gerimis sudah mulai berganti dengan butiran hujan. Saya mengeluarkan beberapa perlengkapan untuk menghadapi hujan saat pendakian. Penutup tas ransel dipasangkan, ponco juga sudah disiapkan untuk menghadapi hujan lebat yang segera datang. Kali ini saya tertinggal jauh dari Micah dan Wawan, pun begitu dengan Azim yang berjalan beberapa belas menit di belakang sayang.

Hujan turun semakin beringas. Butiran-butiran sebesar kelereng terasa sakit saat mengenai tubuh saya yang sudah berpenutup ponco. Saya tetap berjalan mengikuti jalanaan setapak ditengah hujan yang kita lebat. Tujuan saya hanya satu, terus melewati jalur setapak dan tetap bergerak. Jika berdiam diri, saya takut gejala dingin menyerang tubuh. Ini sangat berbahaya saat pendakian jika saya mengalami hipotermia.

Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun tas ransel berukuran 85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian saya panggul dengan rasa berat seperti memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba "duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari jalur yang saya lewati.

Saya ketakutan, tubuh saya bergetar. Untuk pertama kalinya saya merasakan ketakutan yang luar biasa dahsyatnya. Tangisan saya pecah diantara deru hujan yang terasa mencekam saat saya melewati hutan yang semakin suram. Petir saling bersahutan dan letupannya hanya berjarak beberapa meter saja dari jalur yang saya lewati. Ini pertama kali dalam hidup, saya merasakan maut begitu dekat. Maut hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya berjalan.

Saya yakin ini pula yang dirasakan para pendaki dan sherpa di Everest saat mendengar avalans bergemuruh menimpa mereka. Bunyinya yang laksana letusan bom atom telah membuat bulu kuduk merinding. Setidaknya saya dan pendaki-pendaki lainnya pernah merasakan rasa takut, mencekam, dan 'gila'-nya kita tau hanya dua kemungkinan yang sedang akan terjadi dalam hidup kita saat pendakian gunung: hidup atau mati.

Saya ingin menyerah, tak ingin melanjutkan perjalanan. Mungkin berdiam diri lalu berbalik arah bagi sebagian orang adalah cara terbaik. Tapi ini tak ada di rencana saya, berdiam diri dan menyerah. Kekuatan saya waktu itu adalah saya sangat percaya saya akan baik-baik saja. Menyusuri jalur ini adalah kenikmatan dalam kesengsaraan. Nikmat bahwa saya bisa mewujudkan impian untuk mendaki gunung yang banyak diidolakan para pendaki di Nusantara, sengsara karena saya terlalu mem-push diri saya. Karena saya yakin, kita harus berusaha untuk menekan batas-batas yang selama ini kita yakini itulah batas yang bisa kita lakukan. Namun, walaupun saya berusaha mem-push diri saya sebegitu keras, saya yakin saya melakukanya dengan toleransi keselamatan. Saya tetap berjalan merskipun dalam hujan lebat serta angin kencang beserta petir, karena saya yakin titik toleransi dalam keselamatan saya masih pada lampu hijau. Penting sekali bagi kita untuk mengetahui hingga titik mana kita boleh mem-push kemampuan. Dalam beberapa pendakian yang berakibat fatal, seringkali orang terlalu menyia-nyiakan keselamatan karena berusaha mem-push diri mereka diluar ambang kemampuan.

 Saya tetap melahap tanjakan demi tanjakan meskipun dalam hujan. Hampir setengah jam perjalanan dirundung hujan lebat, akhirnya butiran air berganti gerimis. Saya tiba di Shelter II dalam kondisi basah kuyup dan kedinginan. Pun begitu dengan teman pendakian saya yang lain.

Perjalanan yang paling menguras tenaga setelah diterpa hujan lebat dan petir yakni melewati celah sempit dari Shelter 2 menuju Shelter 3. © Yunaidi Joepoet

"Wawan, gimana perjalanan naiknya?" tanya saya saat kami sudah berkumpul semua di Shelter II. "Ngeri. Petirnya dekat sekali. Hujannya pun sungguh lebat."

"Wah parah memang. Jalannnya sudah kayak sungai," timpal Azim. Sementara itu Micah berusaha mengeringkan pakaiannya. "Kita berhenti dulu disini. Bisa rebus air dulu untuk seduh kopi," tambah Azim.

Kami beristirahat sembari membuat kopi dan teh hangat. Kabut semakin pekat saja menutup pemandangan. Perlahan-lahan menutupi lembah disisi kiri Shelter 2. Jarak pandang semakin pendek saja.

Kami merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang kami kenakan sudah basah kuyup. Awalnya kami kira akan baik-baik saja ternyata semakin membuat badan kami menggigil. Saya mengganti pakaian, pun begitu dengan teman-teman saya. "Bagaimana masih kuat untuk terus berjalan ke Shelter 3?" tanya Wawan. "Kalau aku sih masih kuat. Lebih baik kita lanjut ke Shelter 3, nenda disana." jawab Azim.

Bagi saya yang pertama kali mendaki gunung ini, "Dari sini ke Shelter 3 berapa lama?"

"Kalau jalan santai mungkin kita bisa sampai paling telat setengah tujuh lah. Masih cukup waktu untuk mendirikan tenda," ujar Azim.

Micah memilih untuk mengikuti kami saja. Wawan pun mengambil pertimbangan jika memikirkan waktu untuk menuju puncak,"Jika kita mendirikan tenda disini. Lama perjalanan menuju puncak mungkin bisa dua setengah jam. Kalau di Shelter 3 mungkin hanya sejam setengah sudah tiba kalau berjalan santai. Kita lanjut saja bagaimana?"

Kesepakatan pun didapat. Kita melanjutkan perjalanan dari Shelter 2 menuju Shelter 3, sesuai dengan rencana semula di Pintu Rimba. Perjalanan paling sengsara adalah dari Shelter 2 menuju Shelter 3. Jalur yang berupa celah parit sangat sempit membuat ransel kami beberapa kali tersangkut. Beberapa kali pula saya memanjat parit karena tidak muat untuk dilewati.

Tanah yang licin setelah hujan juga menjadi kendala kami saat melewati jalur ini. Pada ketinggian ini, vegetasi Gunung Kerinci berupa pohon-pohon yang mayoritas ditemukan pada gunung lain di Sumatra dan Indonesia pada umumnya.

Inilah tempat kami mendirikan tenda yang saya foto pada hari berikutnya. Saat terkena hujan disertai petir mahadahsyat, saya menyimpan rapat kamera dan baru mengeluarkannya saat pendakian Shelter 2 menuju Shelter 3. Lihatlah, jemuran darurat tempat kami menjemur pakaian. Juga payung warna pink milik Wawan. Micah tegak pinggang di kejauhan. Momen ini saya abadikan sebelum berkemas sebelum perjalanan turun. Semua peralatan pendakian yang basah kami jemur. © Yunaidi Joepoet

Kami tiba di Shelter 3 lebih cepat dari perkiraan. Gerak kami diburu oleh senja yang segera tiba. "Kita disini saja mendirikan tendanya. Lebih dekat ke sumber air," ujar Azim.

"Ayolah kita segerakan mendirikan tendanya. Takutnya nanti gelap. Lebih susah lagi kita," timpal Wawan.

Kami bergegas dalam kedinginan yang sangat. Hujan dari Shelter 1 menuju Shelter 2 menyisakan rasa dingin pada tubuh yang belum juga menghangat. "Grrr...rrr...rrr," suara gemetar dari mulut sembari tubuh digoyangkan, juga tangan yang diusap-usap menjadi aktivitas yang menyelingi kegiatan pendirian tenda.

Sungguh, saya merasa sangat kedinginan kali ini. Usai tenda didirikan dengan sempurna saya bersalin baju. Dilapisi baju 4 lapis dan celana 2 lapis tak mampu menghalangi dingin yang saya derita. Dinginnya sudah menusuk ke tulang. Jemari saya merasa sakit luar biasa. "Zim, numpang menghangatkan tangan ya di tendamu," saya memohon izin ke Azim untuk "membakar" tangan saya di atas api.

Segelas teh hangat dan mie instan sedikit memulihkan rasa dingin saya senja itu. Usai makan malam, masing-masing kami beristirahat. Saya satu tenda dengan Micah. Sepertinya tenda yang saya bawa terlalu pendek baginya.

Semakin malam, tubuh saya semakin bergetar karena rasa dingin yang semakin menjadi. Saya sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, kuping telinga dan menyelinap dalam sleeping bag. Tapi itu belum juga membantu. "Kamu tak apa-apa?" ujar Micah menanyai saya.

"Micah, saya rasa saya bisa mati kedinginan. Dinginnya sampai ketulang," ucap saya pada Micah.

"Kau jangan bicara seperti itu. Sebentar, aku membawa jaket tebal di dalam ransel. Aku pakai saat pendakian di Himalaya," ujar Micah sembari sembari membongkar ransel seukuran lemari.

"Pakailah jaket ini. Ini sarung tanganku cukup untuk kembali menghangatkan tubuhmu," dia menawarkan saya jaket dan sarung tangan. "Tinggal beberapa jam lagi kau memasuki umur baru. Jadi, lebih baik kau bertahan. Aku tak ingin tidur disebelah orang yang sekarat," candanya.

Panorama Pegunungan Bukit Barisan. Lembayung pertama yang saya lihat pada umur 22 tahun. © Yunaidi Joepoet

Jaket dan sarung tangannya cukup membantu kembali menghangatkan tubuh saya yang sudah lemah. Perlahan saya bisa memejamkan mata dan beristirahat setelah perjalanan panjang melewati berbagai tanjakan dan hujan disertai gemuruh petir.

Ini malam terakhir saya tidur di umur 21. Malam diketinggian 3.320 meter sungguh jauh berbeda dengan malam-malam yang saya lalui sebelumnya. Tak ada kasur yang nyamar, hanya ada matras kusam  sebagai alas tidur. Sebelum tidur, tentu banyak harapan dan doa saya ucapkan dalam hati. Kadang di gunung kita bisa menjadi sangat melankolis. Saya tak tau apa pendaki-pendaki lain juga mengalami hal demikian. Saya terlelap tanpa melihat jarum jam.

Dini hari menjadi saat mengharukan, tak ada lilin ulang tahun, kue, ataupun ucapan selamat dari sang kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk diminum bersama, sahabat pendakian, dan lantunan doa dengan berbagai macam pengharapan. "Doanya yang banyak, mumpung di ketinggian. Jadi Tuhan dengar doanya lebih cepat," seloroh Azim saat saya berusaha memejamkan mata.

Setelah melewati kejadian yang berat di hari terakhir umur ke-21. Saya memulai hari baru dengan impian, doa dan harapan yang lebih besar. Mimpi adalah salah satu senjata terkuat untuk meyakinkan diri kita bahwa kita mampu untuk berbuat, bermanfaat, dan menginspirasi lingkungan-lingkungan terdekat. Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang saya dapat. Saya percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri. Saya sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir. Setidaknya upaya-upaya yang saya lakukan baik sebelum dan saat pendakian adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar bagi diri saya sendiri. Kita kadang harus yakin dan mem-push diri kita untuk menggapai impian tersebut. Walaupun dimata orang impian saya memang sederhana, bersujud di puncak api tertinggi saat pergantian umur. Namun tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah seberapa keras usaha kita mewujudkannya. Mungkin ini pula yang dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya.


Matahari baru saja beranjak naik saat halimun menyeruak di atas Pegunungan Bukit Barisan. Dari jalur menuju puncak Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh terlihat merekah diantara lanskap. © Yunaidi Joepoet

Sekarang saya sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian pendakian. Pagi tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkah saya menuju puncak Gunung Kerinci. Terlalu berat mendaki dalam suasana yang teramat dingin seperti ini. Gelap ini hanya berteman dengan sinar senter yang menerangi ayun langkah saya. Sudah terlalu lambat untuk menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci sebelum matahari terbit.

Di tengah perjalanan, semburat matahari telah memunculkan sinarnya. Rona biru yang merekah telah membelah Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci. Kabutnya tak habis memayungi pegunungan Bukit Barisan. Sungguh, pagi pertama di umur saya yang ke-22 ibarat melihat sepenggal nirwana di dunia. Aduhai, nikmat Tuhan mana lagi yang tak saya dapati di ketinggian ini?

Saya terus berjalan merangkak di jalur yang menanjak curam. Untuk sekali tanah yang lembab membuat langkah saya cukup mudah. Saya tiba di Tugu Yudha saat hari sudah mulai terang. Tugu ini terletak di ketinggian 3.685 meter yang dibuat untuk mengenang pendakian yang hiland di Gunung Kerinci. "Hingga sekarang, Yudha tak pernah ketemu," ujar Azim. Saat saya tiba di Tugu Yudha. Kami berdoa singkat untuk para pendaki yang bersemayam di gunung ini.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke puncak. Si Micah sudah tiba di puncak," ujarnya sambil menunjuk micah yang terlihat sangat kecil di atas sana. Dari Tugu Yuddha, satu tanjakan vertikal lagi harus diselesaikan. Terang begini, jalur sudah terlihat jelas, membuat kita semakin berat melangkahkan kaki.

"Ayolah! Saya pasti bisa," semangat saya dalam hati.

Masa-masa yang saya nantikan pun tiba. Puncak Gunung Kerinci hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempat saya berdiri. Saya semakin bersemangat untuk menggapainya.

"Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang tak berlebihan saya lirih. Saya langsung bersujud di tanah tertinggi di Pulau Sumatra ini. Rasa syukur ini tiada habisnya saat mencapai puncak. Tak jauh dari tempat saya bersujud, lubang kawah yang dalamnya beberapa ratus meter menganga lebar.

Saya bersujud syukur sesaat menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan mewujudkan mimpi dan mengenal lebih dekat salah satu karya ciptaan-Mu.

Micah Hanson, kawan kami yang menamatkan pascadoktoral-nya di Northwestern University, mewisuda Azim yang sedeang merayakan kelulusan. © Yunaidi Joepoet

Jauh diseberang, Danau Gunung Tujuh terlihat sangat indah. Juga hamparan kebun teh nan luas terlihat samar dari atas. Awan putih nan bersih berarak-arakan menutupi barisan pegunungan Bukit Barisan. Saya memandang kesekeliling, sungguh sangat luas dan indah. Hari pertama dalam umur baru yang sangat berkesan.

Micah mengambil beberapa foto diri saya. Azim pun tak mau kalah, dia bersalin pakaian dengan baju wisuda kebanggaannya. Kami merayakan semuanya dengan suka cita.

Namun dari pendakian ini kami merasa sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa. Sungguh, rasa gamang berdiri di tubir kawah yang menganga besar telah menyadarkan saya bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua impian.

Dari puncak Gunung Kerinci, saya meninggalkan pesan. Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh kenangan pula. Terima kasih telah mengizinkan saya menunaikan ibadah impian saya, 3.805 meter di atas permukaan laut.


Micah berdiri di puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter yang juga tepat di tubir kawah Gunung Kerinci nan menganga besar. Di kejauhan, tepian barat Pulau Sumatra terlihat samar dibalik awan.  © Yunaidi Joepoet

***

Informasi Pendakian Gunung Kerinci
+ Untuk menuju Gunung Kerinci. Tersedia penerbangan dari Jakarta - Jambi dan Jakarta - Padang. Saran saya, ambillah penerbangan Jakarta - Padang untuk waktu tempuh yang singkat.
+ Angkutan umum berupa travel tersedia dari Padang ke Sungai Penuh dengan  tarif berkisar antara Rp 90.000 - Rp 120.000 tergantung musim keberangkatan. Lama perjalanan sekitar 7 jam. Mintalah turun di Kersik Tuo, desa terakhir sebelum pendakian. 

+ Beberapa penginapan tersedia di Kersik Tuo, salah satunya Homestay Paiman. Tarif penginapan sekitar Rp 80.000/malam. 

+ Di Kersik Tuo terdapat beberapa toko dan tempat makanan. Jadi jangan khawatir untuk perbekalan pendakian. Namun jika berangkat dalam rombongan besar, lebih baik membeli perbekalan di Padang.

+ Dari Desa Kersik Tuo menuju Pos Pendakian cukup memakan waktu jika berjalan kaki. Mintalah penduduk lokal untuk mengantarkan hingga Pintu Rimba, selain menghemat waktu juga menghemat tenaga juga ikut memberdayakan perekonomian lokal.

+ Untuk pendakian yang membutuhkan porter, tersedia pula porter dengan tarif bervariasi. Namun tarif normalnya berkisar Rp 250.000/hari. Selain di Homestay Paiman yang menyediakan porter, sekretatriat pendakian yang letaknya tak jauh dari Homestay Paiman juga menyediakan porter pendakian.

+ Hujan hampir turun setiap hari meskipun musim panas. Sebaiknya persiapkan peralatan pendakian yang cukup.

+ Jalur pendakian Gunung Kerinci mayoritasnya adalah pendakian menanjak saat naik dan curam saat turun. Persiapan fisik adalah salah satu cara untuk mengurangi kejadian yang tak diinginkan. Para pendaki luar biasanya menggunakan hiking stick untuk memudahkan saat turun.

+ Karena Gunung Kerinci merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Kerinci dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO, maka wajib bagi setiap pendaki untuk menjaga kelestariannya. Hindarkan sifat dan perilaku yang tidak terpuji seperti membuang sampah sembarangan dan mencoret-coret serta merusak alam. Pendaki yang baik selalu bersikap terpuji terhadap segala sesuatu ciptaan Tuhan.

+ Diluar tiket pesawat, biaya yang dihabiskan untuk mendaki Gunung Kerinci berkisar antara Rp 750.000 - Rp 1.500.000 tergantung gaya perjalanan dan lama waktu perjalanan.

SEMINUNG

Pendakian Gn. Seminung

Gunung Seminung – Memiliki ketinggian sekitar 1881 meter diatas permukaan laut (mdpl). Tidak begitu tinggi memang, namun siapa sangka pemandangan yang disajikan dari puncak gunung ini cukup membuat mata terpukau. Selain bunga edelweiss yang bisa ditemukan di puncaknya, sajian pemandangan danau yang terbentang tampaknya akan membuat petualangan anda menjadi semakin berkesan.
Lokasi Dan Transportasi
Gunung Seminung termasuk dalam dua wilayah provinsi, tepatnya di kecamatan Warkuk Ranau Selatan, provinsi Sumatera Selatan dan kecamatan Sukau, Provinsi Lampung.
Terdapat beberapa alternatif transportasi umum yang bisa anda gunakan untuk menuju lokasi, baik melalui Lampung, Bengkulu maupun dari Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jika perjalanan anda dari Jakarta ataupun lampung, anda dapat naik bus jurusan ke Simpang Sender Liwa dan turun di Desa Kotabatu. Jika dari Bengkulu ataupun dari Palembang anda dapat naik bus jurusan ke Baturaja kemudian berganti angkutan jurusan Baturaja-Simpang Sender dan turun di desa Kotabatu.
Setibanya di Desa Kotabatu anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu motor milik masyarakat setempat yang berada di tepian danau ranau untuk menuju ke sumber pemandian air panas di kaki gunung seminung. Penyeberangan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit dengan membayar ongkos sekitar Rp 150.000*) untuk satu perahu sekali jalan.
Wisata
Mungkin belum banyak yang mengetahui tentang gunung seminung. Memang gunung ini kurang populer dibandingkan dengan gunung lain di sekitarnya seperti gunung dempo, bukit serelo dan gunung pesagi, namun pesona alam yang disajikan gunung seminung tak kalah bersaing karena banyak lokasi menarik yang bisa anda nikmati. Walaupun ketinggiannya hanya mencapai 1881 mdpl, anda bisa menemukan bunga edelweiss di puncaknya yang tentunya tak bisa anda temukan di gunung dempo maupun bukit serelo.
Untuk tiba di kaki gunung seminung anda harus menyeberangi danau ranau terlebih dahulu. Danau ranau merupakan danau terluas ke-dua di Sumatera dengan luasnya yang mencapai sekitar 8 x 16 Km. Setibanya di kaki gunung seminung, anda dapat menemukan pemandian air panas alami yang dibuka untuk umum. Anda dapat merasakan berendam di pemandian ini baik sebelum melakukan pendakian ataupun saat turun nanti dengan cukup membayar uang masuk sebesar Rp 2.000*) saja.

 

 




DEMPO

Rute Menuju Gunung Dempo via Kampung IV


Pendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Akses menuju Gunung Depo ini terbilang amatlah muudah, ketika sobat/sobit petani sudah berada diterminal pagar alam kalian bisa menggunakan jasa angkot/ojek yang akan mengantarkan kamu menuju pabrik Teh PTPN VII, dilanjut dengan menaiki truk menuju basecamp kampung IV.

Bila sobat/sobit petani dari Jakarta bisa menggunakan angkutan umum Bus Sinar Dempo jurusan Pagar alam (Kali deres - Pagar alam), bus Sinar Dempo ini hanyalah 1 kali berangkkat saja dalam sehari, tepatnya pada jam 11:00 wib.

Pendakian Gunung Dempo


Pendakian Gunung Dempo || Pagar AlamPendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Pendakian Gunung Dempo kita mulai dari Basecamp menuju Shelter I, kalian akan melewati Pintu Rimba yang ditandai oleh perbatasan kebun teh dan hutan. Untuk menuju pintu rimba tidaklah jauh, hanya beberapa menit saja.

Pintu rimba menuju Shelter I, kalian akan menghabiskan waktu kurang lebih 3-4 Jam, kalian akan melewati hutan yang begitu lebat dan rimbun juga terdapat pohon-pohon yang tumbang di sepanjang jalan, disini kalian akan mendapatkan sumber air yang cukup banyak dan kita bisa manfaatkan untuk istirahat/bermalam, perlu diingat di shelter I ini hanya bisa menampung tenda kurang lebih 3-4 tenda saja.

Shelter I Menuju Shelter II


Pendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Pendakian dilanjut dari Shelter I menuju Shelter II yang akan memakan waktu kurang lebih 2 1/2 jam. Perjalanan menuju shelter II kita terus menyusuri jalur yang sudah ada, dimana disetiap sidut kiri dan kanan kita tidak bisa melihat apa-apa yang ada hanya pepohonan yang tinggi serta lebat bahkan terdapat pohon tumbang yang merajalela.

Pendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Ditengah perjalanan kita akan menemukan dinding lemari (Tanjakan) dengan bentuk seperti lemari dan dinding yang besar. Untuk para sobat/sobit petani disini kalian harus lebih berhati-hati dikarenakan track nya yang curam dan menanjat. Di Shelter II ini kalian bisa bermalam/beristirahat, karena di Shelter II ini terdapat sumber air yang terbilang sangat cukup, kalian akan menemukan sungai dengan air yang bersih dan jernih. Shelter II ini bisa menampung tenda kurang lebih 5-6 tenda saja.

Shelter II Menuju Puncak Gunung Dempo


Pendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Perjalanan menuju Puncak Dempo akan semakin berat, dimana track menuju puncak sangat menanjat dan akan menguras tenaga para sobat/sobit petani, yang akan menghabiskan waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam, tergantung fisik kalian masing-masing. Puncak Gunung Dempo terbilang amatlah kecil, kalau kalian mau ngecamp bisa turun lagi menuju pelataran yang cukup luas kurang lebih 15 menit kalian sampai pelataran.

Puncak Merapi Gunung Dempo


Pendakian Gunung Dempo || Pagar Alam


Pendakian dilanjut menuju Puncak Merapi Dempo yang akan menghabis kan waktu 1 jam bahkan lebih, disana kalian bisa menikmati kawah merapi yang sudah tidak aktif lagi dengan warna yang dapat berubah-ubah, tergantung musim dan cuaca.

Masker

Beberapa gunung memiliki lintasan berpasir dan sangat berdebu. Hal ini tentu dapat mengganggu pernafasan. Masker ini berguna sebagai topeng untuk menghindari debu saat mendaki gunung. Selain itu juga berguna untuk mengurangi eksposur terhadap dingin pada bibir dan mulut. Selain itu, masker ini juga bisa digunakan sekadar menjaga wajah dari paparan sinar matahari.

Sarung tangan

Sarung tangan sangat berguna untuk melindungi tangan dari goresan, gesekan, atau mungkin gigitan kecil dari hewan di tangan Anda ketika melewati trek di gunung, terutama di hutan lebat atau berduri. Selain itu, sarung tangan ini juga berguna untuk menjaga suhu tubuh. Karena salah satu bagian tubuh kita, yaitu jari-jari sangat sensitive terhadap udara suhu dingin.
Saya biasanya membawa dua pasang sarung tangan, satu tebal yang biasanya digunakan ketika melewati medan berat seperti ketika memasuki jalan berbatu atau hutan atau semak-semak. Sementara lain kain lembut sarung tangan yang saya biasanya pakai saat tidur untuk mendapatkan kehangatan.

matras

Matras ini berfungsi sebagai kasur saat tidur di dalam tenda. Atau sebagai alas duduk saat ingin bersantai ria saat bersitirahat, berteduh dan sebagainya tanpa harus duduk beralaskan tanah. Secara umum matras berbahan karet. Pilihlah sesuai selera saja karena ada matras dengan karet tebal atau tipis.

Kantong tidur atau sleeping bag

Kantong tidur atau sleeping bag berguna untuk menutupi tubuh Anda pada saat tidur di tenda sehingga tubuh kita tetap hangat. Tidak dapat dipungkiri, bahkan jika Anda tidur di tenda, biasanya masih tidak cukup untuk menjaga masuknya udara pegunungan yang dingin selama malam hari.
Dua faktor perlu dipertimbangkan ketika memilih kantong tidur adalah kualitas bahan dan ukuran. Kantong tidur besar, tidak selalu baik dalam menahan dingin. Karena saat ini juga sudah ada produk yang sangat tipis tapi memiliki kehangatan yang baik. Bahan utaa polar wajib jadi pertimbangan untuk kehangatan saat tidur.


Makanan dan Minuman di gunung

Makanan atau bahan makanan yang wajib dibawa adalah beras satu liter untuk perjalanan 2-3 hari. Lalu bawa juga mie instan, mie ini untuk mengantisipasi ada kekurangan bahan makanan karena kesalahan prediksi kebutuhan makanan kelompok ataupun karena kondisi darurat. Selebihnya pendaki dapat membawa makanan ringan kesukaan sesuai kecukupan masing-masing selama tidak membebani perjalanan berlebihan. Bawalah makanan manis atau berkarbohidrat tinggi.
Selain makanan, tentunya bawa lah air mineral. Setidaknya setiap individu 2 liter berupa 1 botol besar dan 1 botol kecil. Bekal tersebut untuk perjalanan 2-3 hari dan tujuan gunung yang memiliki sumber air.

Peralatan makan di gunung

Kalau peralatan masak adalah perlengkapan wajib kelompok, makan peralatan makan adalah perlengkapan wajib individu. Setiap anggota harus membawa minimal satu piring, gelas, sendok, dan garpu. pilihlah yag berbhan plastik agar tidak pecah di perjalanan. Masing-masing satu saja sudah cukup.

Pakaian ganti DI Gunung

Bawalah  pakaian ganti secukupnya. Ganti pakaian Anda jika sudah basah karena kaeringat atau lembab. Pakaian yang basah dapat membahayakan kondisi tubuh. Dengan mengganti pakaian badan akan lebih segar dan tetap hangat. Jumlah pakaian ganti disesuaikan dengan tujuan dan berapa lama waktu pendakian.

Jas hujan dan atau ponco

Jas hujan dan atau ponco

Seperti namanya jas hujan berfungsi untuk melindungi tubuh Anda dari hujan ketika mendaki sehingga badan dan peralatan Anda tetap kering. Selain jas hujan mungkin juga digunakan sebagai dasar untuk Bivak dalam kondisi darurat.
Nah, untuk membuat bivak ini biasanya menggunakan jas hujan jenis ponco yang lebar, bukan jas hujan yang terdiri dari kemeja dan celana antihujan. Saya sendiri saat mendakian membagi beberapa anggota untuk membawa jas hujan jenis ponco dan jas hujan jenis kemeja celana. Hal tersebut untuk berjaga-jaga saja kalau ada kondisi yang mengharuskan mendirikan bivak sederhana

Sepatu atau sandal gunung


Mendaki gunung ini akan melewati berbagai medan yang dinamis dengan tanah bergelombang, batu-batuan, akar, tanah berpasir, ataupun genangan air. Oleh karena itu sangat dianjurkan tentu menggunakan sepatu khusus gunung.
Sepatu gunung memiliki pijakan yang sudah disesuakan agar mencengkeram kuat dalam berbagai medan. Pijakan kuat ini menghindari terjadinya kecelakaan karena sepatu yang tidak cocok di perjalanan. Jadi, sepatu ini sangat enting karena banyak pendaki mengalami cidera disebabkan kaki yang terpelintir entah karena salah berpijak atau sepatu yang tidak cocok.

JAKET GUNUNG

Jaket adalah salah satu peralatan pendakian yang sangat penting, sifatnya wajib. Jaket ini berguna untuk menahan dan mengurangi dingin sehingga panas tubuh tetap terjaga. Hal ini berguna untuk menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan karena dingin.  Cukup banyak kasus pendaki yang mengalami hipertemia atau kedinginan karena jaket yang tidak memadai untuk Manahan dingin. Jadi bawa lah jaket yang nyaman agar pendakian Anda juga aman.

Carriel atau Tas gunung

Carriel atau Tas gunung


Carrier atau Tas Gunung
Perlengkapan wajib individu. Tas ini fungsinya sudah sangat jelas, yaitu untuk membawa dan menampung barang bawaan serta perlengkapan lainnya dalam mendaki gunung. Bedanya dibanding tas biasa, tas gunung ini memiliki kapasitas yang lebih besar. Biasanya  tas yang digunakan berkapasitas 45 liter, 65 liter, 75 liter, 85 liter, bahkan ada yang sampai 115 liter.
Kapasitas besar ini disesuaikan oleh masing-masing orang. Tidak semua orang harus menggunakan tas berkapasitas besar. Tas gunung kapasitas besar biasanya dibawa atau dimiliki oleh mereka yang terbiasa menjadi leader ataupun porter dalam kelompok pendakian.
Dalam satu kelompok, dengan jumlah anggota 11-15, cukup 1-3 saja yang membawa tas berkapasitas besar. Hal dimaksudkan agar dalam perjalanan tidak semua anggota mendapat beban fisik yang sama saat perjalanan. Harapannya, saat ada kelelahan dari anggota lain bisa berbagi beban atau bertukar beban tas.
Tas gunung juga harus terbuat dari bahan yang kuat. Bawaan yang banyak tentu mengharuskan wadahnya memiliki kekuatan dalam menampung. Jangan sampai ditengah jalan tas rusak hanya kerena tidak kuat menahan beban.