Saya tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak
yang saya lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih
seperti sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air
yang semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun demikian dengan tas ransel berukuran
85 liter berisi beragam macam peralatan pendakian yang saya panggul layaknya
memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena sepatu yang penuh
air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba
"Duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya
beberapa meter dari jalur yang saya lewati. Sekarang saya berteman
dengan maut, seorang diri di tengah rimba yang semakin suram.
Ini
hari terakhir saya diumur 21, saat saya merasa maut hanya berjarak
beberapa depa dari tempat saya berjalan merangkak, hari yang paling
menakutkan selama saya terlahir di dunia. Akankah nafas saya berakhir
beberapa jam saja sebelum pertambahan umur? Di tempat ini, jalan menuju
puncak Gunung Kerinci, titik gunung api tertinggi di Indonesia, saya
sadar bahwa hanya tekad, semangat, motivasi dan kepercayaan terhadap
diri sendiri serta Sang Pencipta yang mampu memupuskan ketakutan untuk
menggapai impian dan sesuatu yang kita percayai bahwa kita bisa
melakukannya.
Saya bukan pendaki profesional, bukan pula anggota
dari kelompok pecinta alam, juga tak lahir dari keluarga berlimpah
materi. Saya hanya pemuda dari desa kecil di pedalaman Sumatra Barat
yang berteman dengan alam, sungai, sawah, dan kerbau sedari bocah. Menginjak
kaki di perguruan tinggi, saya semakin senang membaca kisah-kisah
petualangan. Meskipun fisik saya tak begitu bagus untuk menjadi
petualang seperti Edmund Hillary ataupun Colombus, namun tak ada
salahnya membaca kisah-kisah mereka. Untuk sebuah perjalananpun kerja
serabutan dan menulis serta memotret saya jalankan untuk mendanai
pundi-pundi untuk perjalanan berikutnya.
 |
| Wawan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci. © Yunaidi
Joepoet |
|
Saya menyenangi
kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Norman Edwin dan juga Soe Hok
Gie. Meskipun keduanya bernasib sama, menghembuskan nafas terakhir di
puncak gunung, setidaknya dari kisah mereka saya percaya orang-orang baik dan jatuh cinta akan gunung berpulang di
tempat yang dicintainya pula. Gunung adalah salah satu tempat paling baik di
muka bumi, beberapa kelompok masyarakat dan kepercayaan di berbagai
penjuru dunia mengkultuskan gunung sebagai tempat suci. Lihatlah Gunung
Kailash setinggi 6.638, tempat suci empat agama. Pemeluk Buddha Tibet
menyebutnya Kang Ripnpoche, Permata yang Mulia. Tapi di gunung ini, tempat petir dan maut berjarak hanya beberapa depa, saya
tak berharap nasib saya sama seperti Soe Hok Gie ataupun Norman Edwin.
***
Hamparan
kebun teh menjadi sajian utama saat saya keluar dari penginapan pagi
itu. Tadi malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru, saya
bersama seorang kawan yang sudah mendaki Pegunungan Himalaya, Micah
Hanson tiba di Kersik Tuo. Desa kecil ini ibarat nirwana, yang kurang hanya
aliran sungai. Namun tanpa sungaipun saya tetap merasa kedamaian yang
nyata, apa yang surga janjikan kepada umat manusia.
 |
| Hamparan
kebun teh tua yan juga hampara kebun teh terluas di dengan dengan latar
Desa Kersik Tuo di kanan dan Gunung Kerinci di kejauhan. © Yunaidi
Joepoet |
Begini, penginapan saya terletak di tepi
jalan lintas Padang-Sungai Penuh. Beberapa pendaki dari dalam ataupun
luar negeri biasanya menginap disini sebelum memulai pendakian, namanya
Homestay Paiman. Namun tak jauh dari Homestay Paiman, seorang pemuda
Kersik Tuo membuka rumahnya secara sukarela untuk diinapi oleh para
pendaki. Untuk mendaki Gunung Kerinci, beberapa pendaki lebih memilih
untuk masuk dari Padang dibanding Jambi, alasannya karena jalur yang
lebih pendek, pemandangan nan menawan, dan juga langsung tiba di desa
terakhir sebelum pintu pendakian ke Gunung Kerinci. Di seberang
penginapan saya, hamparan kebun teh yang sungguh sangat luas terhampar
bak permadani. Saya berjalan ke bukit kecil yang tak jauh dari
penginapan,
sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan kebun teh dengan
latar Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter menyangga langit.
Kabut
pagi menyeruak saat sinar matahari menghangatkan Kersik Tuo yang
terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Desa ini
berhawa sejuk, atau lebih tepatnya dingin bagi saya yang terbiasa
hidup di suhu 33' celcius setiap harinya. Aktivitas warga desa belum
berjalan seutuhnya meskipun jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan
pukul tujuh. Mayoritas warga desa ini hidup sebagai petani dan juga
pekerja di perkebunan teh yang dimiliki oleh PTP Nusantara VI. Lahan
kebun teh di Kersik Tuo yang jadi bagian dari Perkebunan Teh Kayu Aro
memiliki luas 2.500 hektare dan menghasilkan daun teh berkualitas juara
sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia. Teh terbaik yang
dihasilkan dikirim ke Belanda untuk diseduh sebagai minuman sang Ratu
Belanda. Perkebunan teh tua ini merupakan perkebunan teh terluas di
dunia dalam satu hamparan.
Memenuhi impian dan janji saya untuk
mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, saya menginjakkan kaki
kembali di Kersik Tuo ini. Beberapa waktu lalu, bersama dua orang kawan,
saya mendaki Danau Gunung Tujuh yang dikelilingi oleh tujuh puncak
gunung. Kami terengah-engah menembus kegelapan malam saat berjalan dari
pintu pendakian menuju tempat berkemah di tepi danau. Butuh waktu lima
jam bagi kami malam itu untuk tiba di tepi Danau Gunung Tujuh.
Meskipun
tak berpengalaman dalam mendaki gunung di atas ketinggian 3.500 meter,
namun melihat Kerinci saat perjumpaan kami pertama kali telah menautkan
batin saya dengan gunung ini. Kepundannya yang rusak akibat letusan
membangkitkan mimpi-mimpi saya sebagai anak muda untuk berlutut di
puncaknya. Tapi apa mungkin dengan fisik yang tak perkasa saya bisa
mendakinya? Setidaknya, motivasi ini semakin kuat saat saya berjanji
untuk bisa melakukannya. Saya orang yang tak suka perayaan, tapi
menginjak umur yang ke-22, saya bulatkan tekad untuk mendekatkan diri
dengan alam, ibu dari segala kehidupan. Juga Azim, teman pendakian saya
ke Gunung Tujuh. Kami sama-sama berjanji untuk mendakinya untuk
merayakan apa yang kami yakini sebagai titik terbaik untuk merencakan
kehidupan masa depan. Saya memasuki umur baru, Azim dan dua temannya
merayakan kelulusan, Micah menggapai puncak api tertinggi di Indonesia
sesuai dengan apa yang direncanakannya saat kami bertemu pertama kali di
Pekanbaru.
***
"Gimana, kito menginap dulu di pintu rimba?" tanya Azim ke Wawan.
"Bolehlah.
Sudah terlalu malam kalau dipaksakan naik ke Shelter II jam segini,"
Wawan mengiyakan ide Azim untuk mendirikan tenda di Pintu Rimba.
 |
| Simpang
Tugu Macan dengan latar perkebunan teh dan Gunung Kerinci saat pagi
hari. Dari tugu ini, perjalanan harus dilanjutkan menuju Pos Pendakian.
Gunung Kerinci merupakan habitat harimau sumatra yang populasinya
semakin terancam. © Yunaidi
Joepoet |
Kami
membuka tenda di kiri jalur. Tempat ini lumayan untuk menampung dua
tenda. Malam pertama pendakian, kami berjalan tak terlalu jauh, hanya
melewati perkebunan penduduk hingga ke pintu rimba. Malam itu, dendeng
yang kami beli di warung dicampur mie rebus menjadi penyumpal perut yang
mulai keroncongan. Selanjutnya kopi dan teh hangat menemani obrolan
kami malam itu, bercerita tentang apa saja yang membuat suasana hangat
hingga perbincangan pun ditutup saat rasa kantuk telah tiba.
Malam pertama
pendakian ke Gunung Kerinci berjalan lancar. Pukul lima subuh, senandung
burung membangunkan kami. Udara sejuk menyambut wajah saya saat membuka
tenda, penuh dengan oksigen nan segar saat menghirup udara pagi di
bawah pohon nan rimbun. Meskipun tenda sebelah terdengar kisruh, "Oi,
siapa yang kentut nih.
Busuk!." Saya bersoloroh, "Panggilan alam datang lebih awal ya kalau di
gunung, hahaha."
Hari ini target kami adalah tiba di Shelter 3,
tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum
menuju puncak Gunung Kerinci. Bagi para pendaki, selain Shelter 2 untuk
mendirikan tenda, Shelter 3 menjadi salah satu tempat yang sering
dijadikan titik berkemah sebelum mendaki menuju puncak Gunung Kerinci.
Tepat pukul delapan pagi, kami berdoa dan meminta izin kepada Penguasa
alam semesta agar dilindungi dalam pendakian ini.
Kami sekarang
meninggalkan ketinggian 1.692 meter, Pos Pintu Rimba. Dari Pintu Rimba,
jalan setapak berpayung pepohonan nan rimbun kami lalui dengan nyaman.
Jalan landai dengan kontur tanah lembab menemani perjalanan menuju Pos
I. Beberapa kali kami berselisih dengan para pemburu burung yang
menggunakan senapan. "Sudah tau dilarang menembak, masih saja menembak,"
ujar Azim sewot saat kami berselisih dengan pemburu yang berusaha
menyembunyikan senapan anginnya.
Perburuan burung dan perambahan
hutan memang menjadi masalah di kawasan yang masuk ke area Taman
Nasional Kerinci Seblat. Taman nasional seluas 1.386.000 hektar ini
adalah rumah bagi 4.000 spesies tumbuhan, termasuk bunga Rafflesia
arnoldi dan Titan arum. Disini hidup pula harimau sumatra yang
populasinya kian terancam, Badak Sumatra, Gajah, Macan Dahan, Tapir
Melayu, Siamang, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung berbulu
indah dan bersuara merdu. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser
dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat dinobatkan
sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
 |
| Pos
Batu Lumut (kiri). Gunung Kerinci yang masuk ke dalam kawasan Taman
Nasional Kerinci Seblat adalah rumah baru sekitar 371 spesies burung. ©
Yunaidi
Joepoet |
|
 |
| Cantigi diketinggian 3.600 meter (kiri). Jalur pendakian dari Shelter 3 menuju puncak Indrapura, Gunung Kerinci. © Yunaidi
Joepoet |
Saya merasa beruntung
sedang berusaha mewujudkan impian dan angan saya menjelajah tempat ini.
Perjalanan kami terhenti di Pos II Batu Lumut, kami beristirahat
sejenak. Saya memanfaatkan waktu untuk mengisi botol air minum sembari melipir
ke tubir tebing yang berbatasan langsung dengan jurang yang dalam. Suara
siamang saling bersahutan saat saya melipir ke tubir jurang. Pos ini
menjadi tempat perlintasan Harimau Sumatra yang semaki sulit saja
ditemui karena habitat hidupnya yag semakin berkurang.
Dari Pos
II menuju Pos III, jalanan mulai menanjak. Perjalanan menuju Pos III ini
kami tempuh dalam waktu satu jam. Wawan dan Micah berjalan kencang.
Wawan tak membawa barang banyak, hanya tas berukuran 40 liter. Micah
Hanson, pria bergelar PhD dari Nortwestern University di Amerika Serikat
ini tentu dengan mudah melahap setiap tanjakan mengingat tubuhnya yang
hampir setinggi dua meter. Saya terengah-engah memanggul barang bawaan
dalam pendakian kali ini. Sementara Azim yang berbadan gempal tertinggal
di belakang. Kami berjarak satu sama lain. "Jalur pendakian Gunung
Kerinci cuma satu jalur. Tinggal ikuti saja jalur jalan setapak," tutur
Azim yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Kerinci.
Kami
kembali bertemu di Pos III, di tempat ini sebuah pondok sederhana biasa
digunakan para pendaki untuk beristirahat. Selang beberapa menit kami
melanjutkan perjalanan ke Shelter I dengan ketinggian 2.512 meter.
Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk
kami lewati. Pegal di pundak pun lutut semakin terasa. Dari Pos III
menuju Shelter 1, perjalanan kami tempuh sekitar satu jam. Setibanya di
Shelter 1, gerimis mulai datang.
 |
| Memandangi juram nan dalam saat pendakian di Gunung Kerinci. © Yunaidi
Joepoet |
|
Dari Shelter 1, kami berusaha
memacu langkah dengan cepat. Dalam perjalanan, gerimis sudah mulai
berganti dengan butiran hujan. Saya mengeluarkan beberapa perlengkapan
untuk menghadapi hujan saat pendakian. Penutup tas ransel dipasangkan,
ponco juga sudah disiapkan untuk menghadapi hujan lebat yang segera
datang. Kali ini saya tertinggal jauh dari Micah dan Wawan, pun begitu
dengan Azim yang berjalan beberapa belas menit di belakang sayang.
Hujan
turun semakin beringas. Butiran-butiran sebesar kelereng terasa sakit
saat mengenai tubuh saya yang sudah berpenutup ponco. Saya tetap
berjalan mengikuti jalanaan setapak ditengah hujan yang kita lebat.
Tujuan saya hanya satu, terus melewati jalur setapak dan tetap bergerak.
Jika berdiam diri, saya takut gejala dingin menyerang tubuh. Ini sangat
berbahaya saat pendakian jika saya mengalami hipotermia.
Saya
tak tahu apa lagi yang akan saya lalui di depan. Jalur setapak yang saya
lewati tak layaknya jalur pendakian pada umumnya, namun lebih seperti
sungai kecil. Ponco yang saya gunakan tak sanggup membendung air yang
semakin kencang membasahi sekujur tubuh. Pun tas ransel berukuran 85
liter berisi beragam macam peralatan pendakian saya panggul dengan rasa
berat seperti memanggul batu. Langkah kaki saya semakin layu karena
sepatu yang penuh
air. Dalam titik yang sudah mendekati kata menyerah tiba-tiba
"duaaaaaaarrrrrr...", letusan petir menyambar pohon yang jaraknya hanya
beberapa meter dari jalur yang saya lewati.
Saya ketakutan,
tubuh saya bergetar. Untuk pertama kalinya saya merasakan ketakutan yang
luar biasa dahsyatnya. Tangisan saya pecah diantara deru hujan yang
terasa mencekam saat saya melewati hutan yang semakin suram. Petir
saling bersahutan dan letupannya hanya berjarak beberapa meter saja dari
jalur yang saya lewati. Ini pertama kali dalam hidup, saya merasakan
maut begitu dekat. Maut hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya
berjalan.
Saya yakin ini pula yang dirasakan para pendaki dan
sherpa di Everest saat mendengar avalans bergemuruh menimpa mereka.
Bunyinya yang laksana letusan bom atom telah membuat bulu kuduk
merinding. Setidaknya saya dan pendaki-pendaki lainnya pernah merasakan
rasa takut, mencekam, dan 'gila'-nya kita tau hanya dua kemungkinan yang
sedang akan terjadi dalam hidup kita saat pendakian gunung: hidup atau
mati.
Saya
ingin menyerah, tak ingin melanjutkan perjalanan. Mungkin berdiam diri
lalu berbalik arah bagi sebagian orang adalah cara terbaik. Tapi ini tak
ada di rencana saya, berdiam diri dan menyerah. Kekuatan saya waktu itu
adalah saya sangat percaya saya akan baik-baik saja. Menyusuri jalur
ini adalah kenikmatan dalam kesengsaraan. Nikmat bahwa saya bisa
mewujudkan impian untuk mendaki gunung yang banyak diidolakan para
pendaki di Nusantara, sengsara karena saya terlalu mem-push diri saya.
Karena saya yakin, kita harus berusaha untuk menekan batas-batas yang
selama ini kita yakini itulah batas yang bisa kita lakukan. Namun,
walaupun saya berusaha mem-push diri saya sebegitu keras, saya yakin
saya melakukanya dengan toleransi keselamatan. Saya tetap berjalan
merskipun dalam hujan lebat serta angin kencang beserta petir, karena
saya yakin titik toleransi dalam keselamatan saya masih pada lampu
hijau. Penting sekali bagi kita untuk mengetahui hingga titik mana kita
boleh mem-push kemampuan. Dalam beberapa pendakian yang berakibat fatal,
seringkali orang terlalu menyia-nyiakan keselamatan karena berusaha
mem-push diri mereka diluar ambang kemampuan.
Saya tetap
melahap tanjakan demi tanjakan meskipun dalam hujan. Hampir setengah jam
perjalanan dirundung hujan lebat, akhirnya butiran air berganti
gerimis. Saya tiba di Shelter II dalam kondisi basah kuyup dan
kedinginan. Pun begitu dengan teman pendakian saya yang lain.
 |
| Perjalanan
yang paling menguras tenaga setelah diterpa hujan lebat dan petir yakni
melewati celah sempit dari Shelter 2 menuju Shelter 3. © Yunaidi
Joepoet |
"Wawan,
gimana perjalanan naiknya?" tanya saya saat kami sudah berkumpul semua
di Shelter II. "Ngeri. Petirnya dekat sekali. Hujannya pun sungguh
lebat."
"Wah parah memang. Jalannnya sudah kayak sungai," timpal
Azim. Sementara itu Micah berusaha mengeringkan pakaiannya. "Kita
berhenti dulu disini. Bisa rebus air dulu untuk seduh kopi," tambah
Azim.
Kami beristirahat sembari membuat kopi dan teh hangat.
Kabut semakin pekat saja menutup pemandangan. Perlahan-lahan menutupi
lembah disisi kiri Shelter 2. Jarak pandang semakin pendek saja.
Kami
merasakan dingin mulai menusuk tulang. Semua pakaian yang kami kenakan
sudah basah kuyup. Awalnya kami kira akan baik-baik saja ternyata
semakin membuat badan kami menggigil. Saya mengganti pakaian, pun begitu
dengan teman-teman saya. "Bagaimana masih kuat untuk terus berjalan ke
Shelter 3?" tanya Wawan. "Kalau aku sih masih kuat. Lebih baik kita
lanjut ke Shelter 3, nenda disana." jawab Azim.
Bagi saya yang pertama kali mendaki gunung ini, "Dari sini ke Shelter 3 berapa lama?"
"Kalau
jalan santai mungkin kita bisa sampai paling telat setengah tujuh lah.
Masih cukup waktu untuk mendirikan tenda," ujar Azim.
Micah
memilih untuk mengikuti kami saja. Wawan pun mengambil pertimbangan jika
memikirkan waktu untuk menuju puncak,"Jika kita mendirikan tenda
disini. Lama perjalanan menuju puncak mungkin bisa dua setengah jam.
Kalau di Shelter 3 mungkin hanya sejam setengah sudah tiba kalau
berjalan santai. Kita lanjut saja bagaimana?"
Kesepakatan pun
didapat. Kita melanjutkan perjalanan dari Shelter 2 menuju Shelter 3,
sesuai dengan rencana semula di Pintu Rimba. Perjalanan paling sengsara
adalah dari Shelter 2 menuju Shelter 3. Jalur yang berupa celah parit sangat
sempit membuat ransel kami beberapa kali tersangkut. Beberapa kali pula
saya memanjat parit karena tidak muat untuk dilewati.
Tanah yang
licin setelah hujan juga menjadi kendala kami saat melewati jalur ini.
Pada ketinggian ini, vegetasi Gunung Kerinci berupa pohon-pohon yang
mayoritas ditemukan pada gunung lain di Sumatra dan Indonesia pada
umumnya.
 |
| Inilah
tempat kami mendirikan tenda yang saya foto pada hari berikutnya. Saat
terkena hujan disertai petir mahadahsyat, saya menyimpan rapat kamera
dan baru mengeluarkannya saat pendakian Shelter 2 menuju Shelter 3.
Lihatlah, jemuran darurat tempat kami menjemur pakaian. Juga payung
warna pink milik Wawan. Micah tegak pinggang di kejauhan. Momen ini saya
abadikan sebelum berkemas sebelum perjalanan turun. Semua peralatan
pendakian yang basah kami jemur. © Yunaidi
Joepoet |
Kami tiba di Shelter 3 lebih cepat dari perkiraan.
Gerak kami diburu oleh senja yang segera tiba. "Kita disini saja
mendirikan tendanya. Lebih dekat ke sumber air," ujar Azim.
"Ayolah kita segerakan mendirikan tendanya. Takutnya nanti gelap. Lebih susah lagi kita," timpal Wawan.
Kami
bergegas dalam kedinginan yang sangat. Hujan dari Shelter 1 menuju
Shelter 2 menyisakan rasa dingin pada tubuh yang belum juga menghangat.
"Grrr...rrr...rrr," suara gemetar dari mulut sembari tubuh digoyangkan,
juga tangan yang diusap-usap menjadi aktivitas yang menyelingi kegiatan
pendirian tenda.
Sungguh, saya merasa sangat kedinginan kali
ini. Usai tenda didirikan dengan sempurna saya bersalin baju. Dilapisi
baju 4 lapis dan celana 2 lapis tak mampu menghalangi dingin yang saya
derita. Dinginnya sudah menusuk ke tulang. Jemari saya merasa sakit luar
biasa. "Zim, numpang menghangatkan tangan ya di tendamu," saya memohon
izin ke Azim untuk "membakar" tangan saya di atas api.
Segelas
teh hangat dan mie instan sedikit memulihkan rasa dingin saya senja itu.
Usai makan malam, masing-masing kami beristirahat. Saya satu tenda
dengan Micah. Sepertinya tenda yang saya bawa terlalu pendek baginya.
Semakin
malam, tubuh saya semakin bergetar karena rasa dingin yang semakin
menjadi. Saya sudah melapisi tubuh, menutupi kaki, kuping telinga dan
menyelinap dalam sleeping bag. Tapi itu belum juga membantu. "Kamu tak
apa-apa?" ujar Micah menanyai saya.
"Micah, saya rasa saya bisa mati kedinginan. Dinginnya sampai ketulang," ucap saya pada Micah.
"Kau
jangan bicara seperti itu. Sebentar, aku membawa jaket tebal di dalam
ransel. Aku pakai saat pendakian di Himalaya," ujar Micah sembari
sembari membongkar ransel seukuran lemari.
"Pakailah jaket ini.
Ini sarung tanganku cukup untuk kembali menghangatkan tubuhmu," dia
menawarkan saya jaket dan sarung tangan. "Tinggal beberapa jam lagi kau
memasuki umur baru. Jadi, lebih baik kau bertahan. Aku tak ingin tidur
disebelah orang yang sekarat," candanya.
 |
| Panorama Pegunungan Bukit Barisan. Lembayung pertama yang saya lihat pada umur 22 tahun. © Yunaidi
Joepoet |
Jaket dan sarung
tangannya cukup membantu kembali menghangatkan tubuh saya yang sudah
lemah. Perlahan saya bisa memejamkan mata dan beristirahat setelah
perjalanan panjang melewati berbagai tanjakan dan hujan disertai gemuruh
petir.
Ini malam terakhir saya tidur di umur 21. Malam
diketinggian 3.320 meter sungguh jauh berbeda dengan malam-malam yang
saya lalui sebelumnya. Tak ada kasur yang nyamar, hanya ada matras kusam
sebagai alas tidur. Sebelum tidur, tentu banyak harapan dan doa saya
ucapkan dalam hati. Kadang di gunung kita bisa menjadi sangat
melankolis. Saya tak tau apa pendaki-pendaki lain juga mengalami hal
demikian. Saya terlelap tanpa melihat jarum jam.
Dini hari
menjadi saat mengharukan, tak ada lilin ulang tahun, kue, ataupun ucapan
selamat dari sang kekasih. Hanya ada secangkir kopi untuk diminum
bersama, sahabat pendakian, dan lantunan doa dengan berbagai macam
pengharapan. "Doanya yang banyak, mumpung di ketinggian. Jadi Tuhan
dengar doanya lebih cepat," seloroh Azim saat saya berusaha memejamkan
mata.
Setelah melewati kejadian yang berat di hari terakhir umur
ke-21. Saya memulai hari baru dengan impian, doa dan harapan yang lebih
besar. Mimpi adalah salah satu senjata terkuat untuk meyakinkan diri
kita bahwa kita mampu untuk berbuat, bermanfaat, dan menginspirasi
lingkungan-lingkungan terdekat. Dari pendakian ini, banyak pelajaran yang
saya dapat. Saya percaya bahwa upaya mewujudkan impian dan cita-cita
itu lebih indah dan nikmat dibanding impian dan cita-cita itu sendiri.
Saya sangat percaya bahwa proses itu lebih penting dari hasil akhir.
Setidaknya upaya-upaya yang saya lakukan baik sebelum dan saat pendakian
adalah kisah kecil namun memberikan semangat dan pelajaran yang besar
bagi diri saya sendiri. Kita kadang harus yakin dan mem-push diri kita
untuk menggapai impian tersebut. Walaupun dimata orang impian saya
memang sederhana, bersujud di puncak api tertinggi saat pergantian umur.
Namun tak ada ukuran besar atau kecil sebuah mimpi, yang ada adalah
seberapa keras usaha kita mewujudkannya. Mungkin ini pula yang dilakukan
oleh orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun jatuh beribu-ribu kali
dalam usahanya, namun kata menyerah bukanlah akhir dari semuanya.
 |
| Matahari
baru saja beranjak naik saat halimun menyeruak di atas Pegunungan Bukit
Barisan. Dari jalur menuju puncak Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh
terlihat merekah diantara lanskap. © Yunaidi
Joepoet |
Sekarang saya
sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian pendakian. Pagi
tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkah saya menuju
puncak Gunung Kerinci. Terlalu berat mendaki dalam suasana yang teramat
dingin seperti ini. Gelap ini hanya berteman dengan sinar senter yang
menerangi ayun langkah saya. Sudah terlalu lambat untuk menginjakkan
kaki di puncak Gunung Kerinci sebelum matahari terbit.
Di tengah
perjalanan, semburat matahari telah memunculkan sinarnya. Rona biru
yang merekah telah membelah Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci.
Kabutnya tak habis memayungi pegunungan Bukit Barisan. Sungguh, pagi
pertama di umur saya yang ke-22 ibarat melihat sepenggal nirwana di
dunia. Aduhai, nikmat Tuhan mana lagi yang tak saya dapati di ketinggian
ini?
Saya terus berjalan merangkak di jalur yang menanjak
curam. Untuk sekali tanah yang lembab membuat langkah saya cukup mudah.
Saya tiba di Tugu Yudha saat hari sudah mulai terang. Tugu ini terletak
di ketinggian 3.685 meter yang dibuat untuk mengenang pendakian yang
hiland di Gunung Kerinci. "Hingga sekarang, Yudha tak pernah ketemu,"
ujar Azim. Saat saya tiba di Tugu Yudha. Kami berdoa singkat untuk para
pendaki yang bersemayam di gunung ini.
"Ayo kita lanjutkan
perjalanan ke puncak. Si Micah sudah tiba di puncak," ujarnya sambil
menunjuk micah yang terlihat sangat kecil di atas sana. Dari Tugu
Yuddha, satu tanjakan vertikal lagi harus diselesaikan. Terang begini,
jalur sudah terlihat jelas, membuat kita semakin berat melangkahkan
kaki.
"Ayolah! Saya pasti bisa," semangat saya dalam hati.
Masa-masa
yang saya nantikan pun tiba. Puncak Gunung Kerinci hanya berjarak
beberapa meter lagi dari tempat saya berdiri. Saya semakin bersemangat
untuk menggapainya.
"Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang
tak berlebihan saya lirih. Saya langsung bersujud di tanah tertinggi di
Pulau Sumatra ini. Rasa syukur ini tiada habisnya saat mencapai puncak.
Tak jauh dari tempat saya bersujud, lubang kawah yang dalamnya beberapa
ratus meter menganga lebar.
 |
| Saya
bersujud syukur sesaat menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci.
Terima kasih Tuhan untuk kesempatan mewujudkan mimpi dan mengenal lebih
dekat salah satu karya ciptaan-Mu. |
 |
| Micah
Hanson, kawan kami yang menamatkan pascadoktoral-nya di Northwestern
University, mewisuda Azim yang sedeang merayakan kelulusan. © Yunaidi
Joepoet |
Jauh diseberang, Danau Gunung Tujuh
terlihat sangat indah. Juga hamparan kebun teh nan luas terlihat samar
dari atas. Awan putih nan bersih berarak-arakan menutupi barisan
pegunungan Bukit Barisan. Saya memandang kesekeliling, sungguh sangat luas
dan indah. Hari pertama dalam umur baru yang sangat berkesan.
Micah
mengambil beberapa foto diri saya. Azim pun tak mau kalah, dia bersalin
pakaian dengan baju wisuda kebanggaannya. Kami merayakan semuanya
dengan suka cita.
Namun dari pendakian ini kami merasa sangat
kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa.
Sungguh, rasa gamang berdiri di tubir kawah yang menganga besar telah
menyadarkan saya bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan
dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran
debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti
butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua
impian.
Dari puncak Gunung Kerinci, saya meninggalkan pesan.
Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh
kenangan pula. Terima kasih telah mengizinkan saya menunaikan ibadah impian saya, 3.805 meter di atas permukaan laut.
 |
| Micah
berdiri di puncak Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter yang juga tepat
di tubir kawah Gunung Kerinci nan menganga besar. Di kejauhan, tepian
barat Pulau Sumatra terlihat samar dibalik awan. © Yunaidi
Joepoet |
***
Informasi Pendakian Gunung Kerinci
+ Untuk menuju Gunung Kerinci. Tersedia penerbangan dari Jakarta - Jambi
dan Jakarta - Padang. Saran saya, ambillah penerbangan Jakarta - Padang
untuk waktu tempuh yang singkat.
+ Angkutan umum berupa travel tersedia dari Padang ke Sungai Penuh dengan
tarif berkisar antara Rp 90.000 - Rp 120.000 tergantung musim
keberangkatan. Lama perjalanan sekitar 7 jam. Mintalah turun di Kersik Tuo, desa terakhir sebelum pendakian.
+ Diluar tiket pesawat, biaya yang dihabiskan untuk mendaki Gunung Kerinci
berkisar antara Rp 750.000 - Rp 1.500.000 tergantung gaya perjalanan
dan lama waktu perjalanan.